Strategi Penuntasan Kemampuan Baca al-Quran di kalangan peserta didik SMP,SMA,SMK

Bogor, 11 Agustus 2016

Oleh Ruhyana / Mahasiswa Teknologi Pendidikaan

20151002_075647Komptensi membaca al-Quran sebenarnya sudah tercantun  pada kurikulum 2013 aspek al-Quran, misalnya di jenjang SMP ada kemampuan peserta didik harus sudah mampu membaca al-Quran QS. Al-Mujadilah : 11, Ar-Rahman: 33, an-Nisa: 146, al-Baqarah: 153, Ali-Imran : 134, al-Furqan: 63, al-Isra: 26-27, an-Nahl : 114, az-Zumar: 53, an-Najm : 39-42, Ali-Imran: 159, al-Hujurat: 13. Sedangkan pada jenjang SMA.SMK aspek al-Quran, QS. al_Hujurat: 10 dan 12, al-Isra: 32 dan an-Nur:2, al-Maidah:59, at-Taubah: 105, Yunus: 40-41, al-Maidah: 32, Ali Imran: 190-191, 159, dan Luqman: 13-14 dan al-Baqarah: 83.Kompetensi aspek al-Quran ini merupakan kompetensi yang minimalis harus dikuasai peserta didik pada jenjang pendidikan yang dijalaninya. Dalam kompetensi tersebut ada kompetensi kemampuan membaca, kompetensi memahami dan kompetensi menghapal.

Jika dipahami pada kompetensi yang didinginkan pada aspek al-Quran maka peserta didik sudah harus mampu membaca dan menghapal serta memhami kandungan ayat-ayat pada al-Quran tersebut. Bagianama kondisi Real kemampuan peserta didik ketika lulus dari sekolahnya, apakah siswa tersebut dijamin memiliki kemampuan membaca, memahami dan hapal ayat al-Quran yang menjadi kompetensi yang harus dikuasainya? Ini sesuatu yang menggelitik kami yanf melanglangbuana dalam dunia pendidiian di jenjang menengah. Salah satu hasil penelitian Disertasi Pasca sarjana UIKA Bogor tahun 2014, mengatakan hasil sebuah penelitian mengatakan bahwa kemampuan peserta didik dalam membaca al-Quran di Kabupaten Bogor baru mencapai 20%, sedangkan yang lainnya 80% belum mampu membaca al-Quran.  Penelitian ini terjadi pada beberapa sekolah yang dijadikan samle peneleitian, realitasnya mungkin bisa lebih besar dari itu atau kurang dari itu.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis melakukan kajian sederhana dengan guru pendidikaN agama Islam di Kabupaten Bogor melalui instrumen yang disebarkan kepada beberapa sekolah di kabupaten Bogor, namun karena yang menjadi respondent guru pendidikan agama Islam, maka hasil rata-rata kemampuan baca al-Quran menurut pengakuan mereka sekitar 10%. Akan tetapi validitas data instrumen tersebut masih kami ragukan, karena belum semua guru melakukan penyisisran secara mendalam kemampuan baca al-Quran dengan berbagai pemetaan dan berdasarkan nstrumen tes yang memetakan kemampuan baca al-Quran peserta didik. Hal ini setelah diajukan beberapa pertanyaan melalui wawancara secara mendalam  monitoring dokument penilaian aspek al-Quran, belum mendapat data-data yang valid secara lengkap, ada yang memang sudah lengkap, ada juga yang sudah melakukan pemetaan, dan kebanyakan belum melakukan secara terprogram tentang penanganan kemampuan peserta didik dalam kemampuan membaca al-Quran.

imageBeranjak dari data yang dmiliki maka, penulis melakukan kajian mendalam dalam sebuah kegiatan pembinaan di sekolah-sekolah tentang aspek al-Quran yang harus dijalani guru pendidikan agama Islam dalam penuntasan kemampuan baca al-Quran. Beberapa sekolah yang mensyaratkan di awal kemampuan baca al-Quran ketika penerimaan sekolah, relatif ketika proses pembelajaran al-Quran tidak begitu mengalami kendala berarti, contoh beberapa saekolah Islam Terpadu baik SMPIT maupun SMAIT kebanyakan mensyaratkan peserta didik yang masuk ke sekolah tersebut sudah mampu membaca al-Quran, sedangkan sekolah yang reguler seperti dialami beberpa sekolah negeri dan sekolah swasta di bawah organisasi umum seperti PGRI, dan sekolah yang dibawah masyarakat secara umum tidak mensyaratkan anak ketika masuk sudah mampu membaca al-Quran, sehingga kemampuan membaca al-Quran di kalangan peseta didik sangat beragam bahkan ditemukan beberapa peseta didik yang masuk dalam kategori Buta Hurup. Hal inilah yang menjadi kendala besar guru pendidikan agama Islam di sakolah umum, dan ini juga menjadi pemicu kepada minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran pendidikan agama Islam di kelas semakin jauh karena pada umunya peserta didik di jenjang SMP, SMA,SMK yang belum bisa baca al-Quran minat untuk belajar penddikan agama Islam pada umumnya sangat rendah. Ini sangat membahayakan jika dibaiarkan, karena semakin menjauhkan nilai-nilai agama sebagai dasar primer kehidupan pada kalangan peserta didik  akan semakin membuat runyamnya masa depan kependudukan di bidang agama pada bangsa ini. Hal ini juga bearlasan, tingkat kemampuan masyarakat yang sudah menikah dalam kemampuan membaca al-Quran semakin menurun yang berdampak kepada anak-ana yang dihasilkannya juga tidak mampu membaca al-Quran, padahal ini merupakan gerbang mengimpelemantasikan nilai-nilai agama di masayarakat,  Belum lagi diperparah dengan pendapat yang keliru dikalangan peserta didik, jika sudah menginjak usia remaja, terutama masuk usia jenjang SMP,SMA,SMK kebanyaknya mereka gengsi untuk mengaji di madrasah, mushola, masjid terdekat, bahkan diniyah-diniyah yang tersedia di masyarakat sangat minim usia remaja.

Dengan melihat data-data yang terjadi dikalangan peserta didik dalam aspek kemampuan baca al-Quran maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan secara bersama baik, guru agama Islam di sekolah, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua peserta didik, pemilik yayasan, lembaga LPTQ, pengelola diniyah takmiliyah, ustad-ustad di masyarakat serta lembaga-lembaga lain bahkan tidak kalah penting kebijakan Pemerintah Daerah  untuk sepakat  menuntaskan kemampuan baca al-Quran sebagai prasayarat memasuki jenjang ketika kembali ke masyarakat. Sekolah memiliki peluang yang sangat besar untuk mendukung penuntasan kemampuan baca al-Quran di kalangan peserta didik muslim, hal ini beralasana karena pada saat ini umumnya anak-anak remaja masih berada di lingkungan jenjang sekolah, baik SMP, SMA, SMK, MTs, MA. Hanya sedikit yang berada di pesantren murni tidak sambil sekolah.

20150911_070712Membaca peluang tersebut pada peserta didik yang berada di sekolah itu juga bukan tidak mengalami kendala berarti, kebijakan Pemerintah Daerah pun sangat beragam ada yang setiap jenjang pendidikan mengawal dan mensyaratkan kemampuan baca al-Quran ada juga yang  tidak mendukung, padahal di beberapa kasus kemampuan membaca al-Quran,serta penguasaan al-Quran dikalangan peseta didik yang dibudidayakan di sekolah menjadi magnet tersendiri bagi sekolah-sekolah tertertu bahkan orang tua rela mengeluarkan kocek lebih besar untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang ada pembeajaran al-Quran lebih besar, contoh sekolah-sekolah tahfiz bermunculan, sekolah boarding Islam menjamur. Ini mengindikasikan minat dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang ada pembelajaran al-Quran lebih mendalam di sekolah sangat diminati masyarakat.  Begitu juga sekolah negeri yang membiasakan secara kontinu kegiatan membaca al-Quran baik dengan teknik one-day-one-ayat atau membiasaka tadarus al-Quran 5 menit sebelum pembelajaran di jam pertama setiap hari mengalami lonjakan peminat peserta didik setiap tahunnya, dan berhasil relatif mudah dalam mendidik peserta didik dalam membentuk sikap dan pengetahuan serta keterampilan yang diinginkan. Hal ini erbukti dengan sekolah-sekolah yang membudayakan baca al-Quran di sekolah setiap awal pembelajaran sangat minim terjadi angka kasus tawuran antar pelajar, bahkan kenakalan peserta didik dapat diminimalisir dari waktu ke waktu.

Dengan paradigma sekolah yang membiasakan kemampuan membaca al-Quran di kalangan peserta didik di sekolah atau di kelas, maka sudah sepatutnya, stakeholder sekolah bahu-membahu untuk mendukung dan mengimplementasikan pembelajaran al-Quran secara kontinu disesuaikan dengan input peserta didik yang diterima sekolah dibidang kemampuan baca al-Quran, bagi sekolah yang menerima peserta didik  sudah semua mampu membaca al-Quran dapat ditingkatkan dengan kemampuan ketartilan dan kefasihan, bahkan sampai tahsin serta memahami kajian al-Quran secara implementatif  di masa depan. Sedangkan bagi sekolah yang menerima peserta didik sangat beragam dalam kemampuan baca al-Quran harus berjibaku melakukan pemetaan serta melakukan tindak lanjut program penanganan peserta didik yang belum mampu membaca al-Quran, peserta didik yang sudah fasih membaca al-Quran dapat membantu sekolah dalam program tutor sebaya membantu peserta didik lainnya belajar bersama membaca al-Quran atau paling tidak menjadi mentoring dalam kemampuan membaca al-Quran. Sedangkan peserta didik yang belum mampu membaca al-Quran bukan berarti harus ditolak di sekolah, akan tetapi dilibatkan dalam beberapa program terkait peningkatan kemampuan baca al-Quran baik yang dilakuka langsung oleh sekolah, guru agama Islam, atau melalui kerjasama dengan lembaga lain seperti pesantren, diniyah, tokoh masayarakat, orang tua secara private al-Quran. Program diniyah yang selama ini berdiri sendiri di masyakat dapat beerjasama dengan sekolah dalam penanganan peserta didik terutama peserta didik yang belum mampu membaca al-Quran dengan cara masuk menjadi pelajaran tambahan sebagai ektrakurikuler wajib, atau sebagai gerakan terapi kemampuan membaca al-Quran.

Beberapa sekolah umum yang menurut pemantauan penulis melakuka gerakan kemampuan membaca al-Quran di kalangan peserta didik secara umum melakukan beberapa kegiatan terkait denan kemampuan membaca al-Quran dikalangan peserta didik sebagai berikut:

  1. Melakukan tadarus al-Quran bersama-sama,ada yang melakukannya pada setiap hari sebelum pembalajaran, setelah pembelajaran, seminggu sekali pada setiap hari jumat, ada yang ketika pesantren kilat atau minimal setiap pembelajaran pendidikan agama Islam.
  2. melakukan one-day-one-ayat al-Quran setiap peserta didik yang disetorkan kepada mentor-mentor yang ditunjuk pada ektrakurikuler. atau setor seminggu sekali dengan pembina ektrakurikuler, atau menguji dan memberikan reward kemampuan membaca al-Quran bagi peserta didik yang sudah melampaui kemampuan bacanya dalam bentuk sertifikat penghargaan yang ditandangani kepala sekolah.
  3. Membiasakan tahfiz al-Quran dan sebagai prasyarat kelulusan sebuah sekolah yang dilakukan proses tahfiz secara kontinu pada peserta didik. dan inil lebih banyak dilakukan pada sekolah Islam Terpadu dan Boarding pesantren.
  4. Ada juga ditemukan beberapa sekolah yang menambah mata pelajaran berkaitan dengan kemampuan baca al-Quran seperti mata pelajaran Quran-Hadits mirip seperti yang ada pada MTs dan MA,namun sering terjebak dengan penguasaan subjec matter kareba bukunya juga digunakan buku Quran-Hadits pada MTs / MA bukan pada mengantar anak kemampuan membaca al-Quran, ada juga sekolah Islam yang menggunakan sebuah buku sejenis Iqra, Bagdadi, al-Jabari dan sebagainya dan menjadi mata pelajaran di kelas. Selain itu juga ditemukan baik ada yang sudah perdaerah dengan dukungan Peraturan Daerah tertentu yang menambah kemampuan baca al-Quran sebagai mata palajaran bernama Baca Tulis al-Quran (BTQ).
  5. Selain itu juga ada yang menambahkan mata pelajaran pendukung seperti pelajaran bahasa Arab yang lebih mengarah kepada kemampuan peserta didik dalam membaca al-Quran bukan pada sastra (Nahwu-Sharafnya).
  6. Ada juga kemampuan membaca al-Quran sebagai proses punishment bagi peserta didiik muslim yang melakukan pelanggaran atau kesalahan kecil di sekolah, seperti terlambat sekolah, berada di luar kelas ketika proses pembelajaran berlangsung di kelas dsb, maka hukuman pendidikannya adalah membaca al-Quran satu surat panjang, satu juz dsb sebagai proses pembelajaran.

Dengan berbagai strategi penuntasan kemampuan baca al-Quran di kalangan peserta didik SMP, SMA, SMK tersebut sekolah dan guru pendidikan agama Islam serta masyarakat pada dasarnya sudah melakukan berbagai cara penanganan kemampuan baca al-Quran di kalangan peserta didik dengan sasaran utama membiasakan membaca al-Quran, melatih kelancaran, dan mampu mengajarkan kepada teman-teman sebayanya. Hal ini perlu dilakukan oleh semua peserta didik secara proses dan kontinu dengan cara membaca al-Quran sebagai sebuah sistem yang ada di sekolah dan realisasi sebuah program sekolah, sehingga tingkat kemampuan baca al-Quran akan sangat besar di kalangan peserta didik, sementara peserta didik yang belum mampu membaca al-Quran akan semakin hilang karena dituntut secara sistem dan program untuk mampu membaca al-quran.

850636451_89972Dalam melakukan penanganan peserta didik yang belum mampu membaca al-Quran sekolah dalam hal ini guru pendidikan agama Islam, Walikelas, Kepala sekolah beserta staf kurikulum perlu kerjasama secara sinergi untuk mensiasati penanganan kemampuan membaca al-Quran di kalangan peserta didik, baik inklud dalam pembelajaran PAI, sebelum pembelajaran, budaya membaca al-Quran di sekolah dan sebagainya. Lebih dari itu sekolah juga dapat melakukan kerja sama yang intent dengan lembaga atau patriat yang dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca al-Quran seperti kerjasama dengan pesantren, diniyah takmiliyah, ustad-ustad guru ngaji di masyarakat bahkan guru private al-Quran baik dilakukan di sekolah, di luar sekolah akan tetapi sekolah tetap melakukan program secara sistemik, seperti melakukan kontrol seminggu sekali, atau maksimal sebulan sekali terutama bagi anak yang belum mampu membaca al-Quran.

Dengan barbagai strategi penanganan kemampuan peserta didik dalam membaca al-Quran maka setidaknya angka tingkat buta hurup al-Quran bagi peserta didik yang mulim dapat diminimalisir secara nasional. Hal ini akani berdampak secara tidak langsung baik kuat atau kurang kuat pengaruh peserta didik yang mampu membaca al-Quran dapat melakukan hal yang positif di masyarakat, sehingga anaka kenakalan remaja dari tahun ketahun dapat semakin ditekan.

wassalam

Oleh Ruhyana

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s