Monthly Archives: October 2014

PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER

Bogor, 17 Oktober 2014

PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER (PBK)
by. Sunaryo Sunarto

  1. Rasional

Pendidikan berbasis komputer (Computer-Based Education) telah muncul pada tahun 60-an, sejak pertama kali dikembangkan program pembelajaran berbasis komputer (Computer-Based Instruction). Computer-Based Instruction (CBI) merupakan bentuk aplikasi komputer yang diterapkan dalam pembelajaran. Pada awalnya, penerapan Computer-Based Education popular menggunakan program Computer-Assisted Instruction (CAI), Computer-Assisted Learning (CAL), Computer-Managed Instruction (CMI), Computer-Assisted Testing, dan Computer-Assisted Guidance.

Terminologi penggunaan komputer dalam bidang pembelajaran merupakan masalah debatable. Bentuk CAI, CBI dan CAL seringkali digunakan untuk mendeskripsikan aplikasi komputer dalam pembelajaran. CAI mampu menjangkau strategi belajar yang lebih luas dan kompleks, karena CAI mengaplikasikan pendekatan belajar terprogram. Dimana upaya mahasiswa dalam mencapai kompetensi, dilakukan kegiatan belajar melalui tahapan-tahapan pembelajaran tertentu (Simoson dan Thompson, 1990). Bentuk pembelajaran dengan CAI biasanya diinteprestasikan sebagai suatu pendekatan komputer untuk menyampaikan informasi kepada mahasiswa, sehingga banyak bentuk CAI mengacu pada program komputer drill and practice serta tutorial. Pada awalnya, CAI dan CAL hanya mampu menyajikan materi ajar dalam bentuk teks dan grafik.

Perkembangan teknologi komputer saat ini, telah mengubah konsep multimedia. Pada era 60-an, akronim kata multimedia dalam taksonomi teknologi pendidikan bukan istilah yang asing. Pada saat itu, multimedia diartikan kumpulan/gabungan dari berbagai peralatan media yang berbeda yang digunakan untuk presentasi (Barker and Tucker,1990). Pada tahun 90-an, memaknai Multimedia transmitting text, audio and graphics in real time (Simonson dan Thompson,1994). Gayestik (1992) mendeskripsikan multimedia sebagai suatu sistem komunikasi interaktif berbasis komputer yang mampu menciptakan, menyimpan, menyajikan dan mengakses kembali informasi berupa teks, grafik, suara, video atau animasi. Multimedia interaktif mempunyai potensi untuk digunakan dalam pembelajaran dengan berbagai strategi, khususnya sebagai alat bantu pembelajaran untuk tutorial interaktif dan buku pedoman (Phillips, 1997). Pengembangan pembelajaran multimedia interaktif mengacu pada philosifi konstruktivisme, yang memungkinkan kegiatan pembelajaran secara eksplisit masih diperlukan.

Terminologi aplikasi komputer dalam pembelajaran terus berkembang, seirama dengan perkembangan teknologi komputer dan teknologi informasi dalam meningkatkan mutu pembelajaran. E-learning disebut juga dengan pembelajaran berbantuan komputer. Secara umum, e-learning terdapat dua katagori yaitu (1) belajar melalui komputer mandiri (standalone) dan (2) belajar melalui komputer dalam jaringan (Purbo, 2001). Pengembangan lingkungan belajar berbasis Web dapat diciptakan dan diakseskan melalui jaringan internet atau intranet. Pengembangan lingkungan belajar dengan berbantuan Web, identik dengan kegiatan dosen memberikan informasi untuk kegiatan belajar mahasiswa. Pembelajaran berbasis Web mampu digunakan belajar untuk membentuk kompetensi mahasiswa melalui variasi tugas, menggunakan berbagai perangkat lunak, belajar berkolaborasi untuk suatu proyek dan tukar informasi (Jolliffe dkk., 2001).

Menurut Steinberg komputer dapat membantu pembelajaran dengan berbagai cara, yaitu dapat menyajikan materi, berinteraksi dengan mahasiswa dengan menampilkan seperti tutor, baik secara individual maupun secara kelompok kecil (Steinberg,1991). Penelitian yang dilakukan Kulik menunjukkan bahwa PBK mampu meningkatkan prestasi belajar mahasiswa sebesar 50%, serta mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan belajar mahasiswa (Dalton, 1986). Penggunaan pembelajaran berbantuan komputer di sekolah lanjutan tingkat atas dan pendidikan tinggi, Suppes dan Wells menyimpulkan bahwa pembelajaran berbantuan komputer sama efektifnya dengan pembelajaran konvensional, namun waktu belajar jauh lebih hemat jika strategi belajar menggunakan pembelajaran berbantuan komputer (Splittgerber dan Stirzaker, 1984).

  1. Konsep

Beragam katagori penggunaan komputer dalam pendidikan dikemukakan para pakar komputer pendidikan. Taylor (1980) menjelaskan komputer dapat digunakan sebagai seorang tutor, sebagai suatu alat dan sebagai a Tutee. Peran komputer sebagai seorang tutor identik penggunaan CAI, CAL atau CBI oleh mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi tertentu. Tool sofware merupakan perangkat lunak komputer yang digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran untuk hampir semua bidang studi di sekolah (Simonson dan Thompson, 1994). Software katagori ini antara lain Microsof Word, Data Base Manager, Hypermedia, Graphics Programs, dan Paket Analisis Statistik.

Taksonomi komputer dalam pendidikan tinggi dapat dipilahkan secara mendasar, yakni: (1) mengajarkan tentang komputer, (2) mengajar dengan komputer, dan (3) komputer untuk mengelola administrasi pembelajaran (Rockart dan Morton, 1975). Pembelajaran tentang komputer, menempatkan komputer subtansi kurikulum yang harus dikaji oleh mahasiswa sebagai materi ajar. Pembelajaran dengan menggunakan komputer populer dimaknai sebagai Computer-Based Instruction (CBI). CBI, komputer digunakan untuk menyampaikan informasi kepada mahasiswa dan tidak termasuk pemakaian peralatan mesin (Simonson dan Thompson,1994). Gagasan pembelajaran berbasis komputer, sangat berbeda dengan kepercayaan dosen sepenuhnya pada komputer, dimana komputer digunakan untuki menggantikan peran dosen dalam menyampaikan materi perkuliahan. Perencanaan suatu proses pembelajaran perlu dilakukan dosen untuk merancang kegiatan. Sistem perencanaan pembelajaran merupakan faktor utama untuk mengoptimalkan penggunaan komputer dalam pembelajaran semua bidang studi (Rockart dan Morton, 1975). Komputer untuk mengelola administrasi pembelajaran disebut Computer-Managed Instruction (CMI). CMI, komputer digunakan untuk mengelola individu mahasiswa dalam keseluruhan program pendidikan. Carton (1991), Simonson dan Thompson (1994), menjelaskan CMI dirancang dengan fungsi sebagai data base, grading dan kontruksi bank soal tes, lembar kerja elektronik, mencatat kehadiran mahasiswa, merekam dan menyusun rangking, menyimpan data perkembangan hasil belajar (indeks prestasi) mahasiswa. Taksonomi komputer dalam pendidikan tinggi dapat dijelaskan gambar 1. Belajar dengan bantuan komputer

Fungsi Presentasi Kombinasi Pengayaan

Teknik

Ceramah

Drill and practice

Dialog

Pemecahan

Permainan

Tutorial

Simulasi

Inkuiri

Gambar 1 Taksonomi Komputer Dalam Pendidikan (Adaptasi Kockert dan Morton, 1975)

Taksonomi tersebut digunakan untuk memberi perbedaan yang ekstrim dari materi ajar dan lingkungan belajar. Perbedaan antara komputer untuk presentasi dan komputer untuk pengayaan secara jelas dipilihkan antara penggunaan komputer untuk mengajarkan isi materi perkuliahan dan penggunaan komputer untuk mendukung lingkungan mahasiswa beraktivitas belajar.

Dari deskripsi di atas, pembelajaran berbasis komputer memiliki keberagaman format, berikut ini disajikan beberapa pembelajaran berbasis komputer yang dapat dipertimbangkan sebagai pengembangan pembelajaran di perguruan tinggi.

  1. Pembelajaran Berbantuan Komputer

PembelajaranComputer-Assisted Instruction atau Pembelajaran Berbantuan Komputer atau (PBK) sebagai proses mengajar yang dilakukan secara langsung yang melibatkan komputer untuk mempresentasikan bahan ajar dalam suatu model pembelajaran yang interaktif untuk memberikan dan mengendalikan lingkungan belajar secara individual pada masing-masing mahasiswa (Splittgerber dan Stirzaker,1984). Definisi ini selaras dengan Steinberg yang menyatakan bahwa PBK merupakan semua penerapan komputer untuk pembelajaran yang memiliki aspek individual, interaktif, dan arahan (Steinberg,1991). Makna PBK sebagai pembelajaran individual, karena komputer memberikan layanan sebagai seorang tutor bagi seorang mahasiswa dari pada sebagai seorang instruktor untuk suatu kelompok mahasiswa. Dalam pembelajaran berbantuan komputer terjadi komunikasi dua arah secara intensif antara mahasiswa dengan sistem komputer. Ini dimaknai sebagai PBK interaktif. Selain ini, dengan PBK memungkinkan  mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan, memberi respon dan sistem komputer menyajikan umpan balik secepat mungkin setelah mahasiswa memberi respon. Umpan balik yang diberikan komputer diharapkan agar mahasiswa selalu dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan. Prosedur stimuli yang disajikan melalui layar monitor, respon mahasiswa melalui papan ketik dan umpan balik yang berbentuk teks, suara atau gambar diarahkan berdasarkan struktur program yang dirancang oleh pengembang PBKI. Ditinjau dari peran apa yang diperankan program komputer, Merrill (1996) secara spesifik menyatakan bahwa PBKI merupakan penggunaan komputer untuk membantu dalam aktivitas pembelajaran. Pada umumnya digunakan dengan mengacu penerapan tutor, seperti misalnya memberi drill and practice, tutorials, simulation, and games. Definisi ini selaras dengan Tailor dalam Merrill (1996), yang menyatakan bahwa semua aplikasi komputer dalam pendidikan dapat diklasifikasi sebagai tutor, tool atau tutee.

  1. Pembelajaran Berbasis Web

Beragam terminologi belajar menggunakan fasilitas internet, antara lain : Internet-Based Learning, Web-Based Learning, E-learning dan Computer Supperted Learning Resources.

Komponen yang harus diperhatikan dalam mengembangkan sistem pembelajaran berbasis Web, yaitu : 1) a learning event plan, 2) learning materials presentation, 3) learner assessment, 4) internet resources, 5) instructional support, dan 6) technical support (Alan Jolliffe dkk., 2001).

Rancangan kegiatan belajar memberikan deskripsi dan petunjuk untuk berbagai aktivitas belajar, metode komunikasi, penilaian tugas, interaksi mahasiswa dengan materi ajar dan waktu untuk menyelesaikan kegiatan belajar.

Materi ajar yang akan dipresentasikan dapat berupa teks, gambar, suara, atau animasi. Secara khusus untuk mendukung materi teks dapat dikembangkan media lain untuk meningkatkan pesan yang disajikan. Untuk meningkatkan interaksi belajar mahasiswa, materi dapat dikemas dalam bentuk kuis, pertanyaan terbuka, ringkasan yang dikembangkan mahasiswa atau menggunakan Web sebagai suatu alat riset.

Metode penilaian yang digunakan sangat ditentukan oleh kebutuhan mahasiswa dan topik yang dipelajari, namun secara umum terdapat tiga tipe penilaian, yaitu : 1) online quiz, 2) tugas tertulis dan 3) ujian. Penilaian online menggunakan program Computer-Managed Learning (CML), diakses mahasiswa dalam bentuk penilaian diagnostik. Umpan balik dari penilaian ini membantu pemahaman mahasiswa yang lebih dan menentukan perkembangan kegiatan belajar berikutnya. Penilaian tertulis merupakan suatu metode penilaian standar untuk berbagai kegiatan belajar. Dalam lingkungan belajar berbasis Web, penialian tertulis dapat disampaikan sebagai dokumen e-mail dari masing-masing mahasiswa atau kelompok. Metode penilaian ujian masih dibutuhkan untuk menentukan perkembangan mahasiswa. Ujian yang disajikan online menggunakan program Computer-Assisted Testing yang kerahasiaanya terjaga atau ujian diselenggarakan dalam pengaturan kelas konvensional.

Sumber belajar internet dapat membantu mahasiswa menyelesaikan kegiatan belajar secara bermakna. Sumber belajar internet mencakup perpustakaan online atau sejumlah Web Sites lain yang relevan.

Daya dukung pembelajaran meliputi dukungan fasilitas elektronik dan fasilitator. Dukungan fasilitas elektronik dapat dibuat dalam suatu bentuk daftar istilah atau daftar pertanyaan-pertanyaan yang sering kali

dicari mahasiswa. Dukungan fasilitator dapat juga mencakup e-mail, muti e-mail atau computer conference.

Dari uraian di atas, refleksi penerapan di Indonesia akan memberikan dampak yang luas, diantaranya dosen yang biasa mengajar tradisional akan berkurang penghasilannya atau mungkin kehilangan pekerjaan, karena kehilangan mahasiswa. Pada negara yang sedang berkembang, hal tersebut akan mengakibatkan terjadi pengangguran besar-besaran bagi para dosen. Dengan sangat besarnya jumlah mahasiswa sampai 100.000 orang, maka soal ujian akan kurang bermutu karena akan dibuat dalam jumlah masal dan mudah dikoreksi. Sedang jika dibuat soal untuk tujuan individual masih diragukan medotologi pengaksesan. Untuk bidang studi dengan yang memiliki cakupan ranah belajar afektif dan psikomotor, kelas elektronik akan mengalami kesulitan dalam implementasinya.

  1. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Komputer
  2. Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK)

Mengadaptasi Hanaffin dan Peck (1988), bahwa karakteristik PBK antara lain:

  1. Tersedianya fasilitas komputer untuk kegiatan belajar mahasiswa
  2. Program CAI dikembangkan berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai
  3. Strategi belajar dapat ditentukan dengan tutorial, drill and practice, problem solving atau
  4. Relevan dengan ragam karakteristik mahasiswa,
  5. Mengoptimalkan interaksi belajar mahasiswa dengan materi ajar,
  6. Memiliki potensi untuk mengatur kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa,
  7. Efektif untuk mempertahankan minat belajar mahasiswa,
  8. Memberikan pendekatan yang positif terhadap mahasiswa,
  9. Memberikan variasi umpan balik dan dilakukan secepat mungkin
  10. Relevan digunakan untuk berbagai lingkungan belajar, dimana mahasiswa satu dan lainnya melakukan kegiatan belajar yang berbeda
  11. Mampu menilai kemampuan mahasiswa secara komprehensif dan mendokumentasikan penilaian dengan baik
  12. Rangcangan evaluasi sesuai dengan kompetensi
  13. Mampu menggunakan sumber belajar berbasis komputer secara luas
  14. Pembelajaran Berbasis WEB

Mengadaptasi Jolliffe dkk (2001) dan French dkk (1999), karakteristik pembelajaran berbasis WEB, antara lain:

  1. Materi ajar disajikan dalam bentuk teks, grafik dan berbagai elemen multimedia,
  2. Komunikasi dilakukan secara serentak dan tak serentak seperti video conferencing, chats rooms, atau discussion ferums,
  3. Digunakan untuk belajar pada waktu dan tempat maya,
  4. Dapat digunakan berbagai elemen belajar berbasis CD-ROM, untuk meningkatkan komunikasi belajar,
  5. Materi ajar relatif mudah diperbaharui,
  6. Meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan fasilitator,
  7. Memungkinkan bentuk komunikasi belajar formal dan informal,
  8. Dapat menggunakan ragam sumber belajar yang luas di internet

Menurut Simoson dan Thompson (1994) mengutip Gagne, menjelaskan terdapat sembilan kegiatan pembelajaran yang harus ada dalam CBI, yaitu:

  1. Meningkatkan perhatian mahasiswa
  2. Menyampaikan tujuan belajar kepada mahasiswa
  3. Mendorong ingatan kembali mahasiswa tentang informasi yang telah dipelajarinya
  4. Menyajikan stimuli secara khusus
  5. memberi petunjuk belajar
  6. Memperoleh performan mahasiswa
  7. Memberikan umpan balik yang informatif
  8. Menilai tingkat performan mahasiswa
  9. Meningkatkan retensi dan transfer belajar
  10. Rambu-rambu Melaksanakan Model PBK

Mengadopsi Byte (1995), Maier dkk mendeskripsikan pembandingan model PBK dengan model pembelajaran tradisional di pendidikan tinggi sebagai berikut:

Tabel 1. Model pembelajaran Tradisional dan PBK

Model Non PBK Model PBK
Materi disajikan dengan presentasi di ruang kuliah Secara        Individu           mahasiswa

mengeksplorasi materi ajar

Mengabsorsi       materi     ajar     secara

pasif dan/atau aktif

Belajar        materi        ajar      dengan

pengalaman

Kerja individu Belajar berkelompok
Dosen sebagai penyampai informasi Dosen sebagai pembimbing
Materi ajar relatif stabil Materi ajar berubah secara cepat

Model belajar dan pembelajaran pembelajaran PBK antara lain: 1. Dosen sebagai pembimbing atau manajer sumber belajar

  1. Mahasiswa menjadi lebih independen dan mengelola dirinya untuk belajar
  2. Mahasiswa bekerja secara kolaboratif dengan teman yang lain, namun tidak kompetitif
  3. Komunikasi dan sumber belajar mudah diakses melalui internet
  4. Multimedia sumber belajar menjadi sesuatu yang normal dan disajikan melalui jaringan yang mudah diakses
Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PERAN GURU DALAM KURIKULUM

Bogor, 17 Oktober 2014

CIMG2077

Peran guru dalam pengembangan kurikulum menurut Murray Print (1993) pada buku Curriculum Development and Desain lebih banyak apa yang terjadi pada basis kelas, guru berperan sebagai:

  • implementer atau aplikator kurikulum yaitu berperan untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah ditentukan oleh perumus kebijakan kurikulum, guru tidak memiliki kesempatan untuk menentukan isi kurikulum maupun target kurikulum. Perannya hanya sebatas menjalankan kurikulum. Hal ini  pernah dilaksanakan di Indonesia sebelum reformasi, guru sebagai implementator kebijakan kurikulum yang disusun secara terpusat yang terdapat  dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP).
  • Adapter, yaitu sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik kebutuhan siswa dan kebutuhan daerah. Guru diberikan kewenangan untuk menyesuaikan kurikuum dengan kebutuhan daerah ataupun karakteristik sekolah,  para perancang kurikulum hanya menentukan standar isi sebagai standar minimal yang harus dicapai.bagaimana implementasinya, kapan waktunya, dan hal-hal teknis lainnya ditentukan oleh guru.
  • Developer,  guru berperan sebagai pengembang kurikulum, guru memiliki kewenangan dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru tidak hanya bisa menentukan tujuan dan isi pelajaran yang akan disampaikan, tetapi bahkan dapat menentukan strategi apa yang harus dikembangkan dan system evaluasi apa yang akan digunakannya. Sebagai pengembang kurikulum guru sepenuhnya dapat menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik, misi dan visi sekolah/madrasah, serta sesuai dengan pengalaman belajar yang diperlukan anak didik.
  • Researcher, guru berperan sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher). Peran ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas professional guru yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru. Dalam peran ini guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum, misalnya menguji bahan-bahan kurikulum, menguji efektivitas program, strategi maupun model pembelajaran, termasuk mengumpulkan data tenatang keberhasilan siswa mencapai target kurikulum. Salah satu metode yang dianjurkan dalam penelitian adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni metode peneitian yang berangkat dari masaah ayang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PERAN KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN

Bogor, 17 OKtober 2014

20140923_141715

Peran kurikulum menurut Dr. Oemar Hamalik dengan menganalisis sifat dari masyarakat  dan kebudayaan dengan sekolah sebagai institusi sosial dalam melaksnakan opreasinya paling tidak memliki tiga peranan penting dari kurikulum yaitu peranan konservatif, peranan kritis dan peranan evaluative.

  • peranan konservatif yaitu kurikulum berperan sebagai transmisi dan menafsirkan warisan sosial budaya kepada generasi muda dengan cara mentransfer lmu pengetahuan dan kebudayaan kepada peserta didik . Maka sekolah berperan sebagai lembaga yang  mempenagruhi dan membina tingkah laku peserta didik  sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat sejalan  dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. Hal ini sejalan dengan pendapat Romine: “ In sense the conservative role provides what may be called social cement. It contributes to like-mindedness and provides for behavior which is consistent with values already accepted. It deals with what is sometimes known as the core of relative universals”.
  • peranan kritis atau evaluatif yaitu kurikulum berperan sebagai proses menilai dan memilih bebagai unsur kebudayaan yang akan diwariskan karena kebudayaan itu sendiri senantiasa berubah, berkembang dan bertambah dari waktu ke waktu. Kebudyaan masa lalu belum tentu cocok dengan perkembangan masa berikutnya, seperti yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib “Ajarkan anak-anak kalian sesuai dengan masanya….”Sehingga nilai-nilai sosial yang sudah usang  dan tidak sesuai dengan keadaan masa sekarang atau yang akan datang dievaluasi dan dimodifikasi serta diperbaiki  dengan pemilihan yang berkriteria paling tepat.
  • peranan kreatif dan kontruktif dalam menjawab tantangan kahidupan yaitu sebagai kurikulum berperan sebagai menciptakan dan menyusun sesuatu hal baru sesuai kebutuhan masyarakat di masa sekarang dan akan datang. Kurikulum dalam hal ini membantu peserta didik sebagi individu dibentu mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam menciptakan, proses pengalaman, proses berpikir, mengembangkan kemampuan dan keterampilan baru yang akan memberikan menfaat bagi masyarakat di masa sekarang dan mendatang.

Sedangkan Fungsi kurikulum menurut Oemar Hamalik  yang diambil dari pendapat Alexander Inglis di buku Principles of Secondary Education 1998, kurikulum memiliki fungsi  sebagai penyesuaian, pengintegrasian, diferensiasi, persiapan, pemilihan dan diagnostic.

  • Fungsi penyesuaian (the adjustive of Adaftive Function), yaitu kurikulum berfungsi sebagai proses dan program yang memfasilitasi peserta didik mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan secara menyeluruh dan lingkungan disesuaikan dengan kondisi perseorangan peserta didik. Akan tetapi karena lingkungan selalu berubah dan dinamis, maka peserta didik dapat segera menyesuaikan diri. Dalam hal ini kurikulum harus mampu mengkondisikan peserta didik dalam lingkungan yang diharapkan masyarakat pendidikan.
  • Fungsi Integrasi (the integrating Function), yaitu kurikulum berfungsi menghasilkan peserta didik yang mampu mengintegrasikan pribadi peserta didik memberikan sumbangan dalam pembentukan atau pengintegrasian dengan masayarakat.
  • Fungsi diferensiasi (the differentiating function) yaitu kurikulum berfungsi mengakomodir dan memberikan pelayanan terhadap perbedaan atau keaneka ragaman kemampuan setiap peserta didik dan mendorong orang untuk berpikir kritis dan kreatif dengan keanekaragaman kemampuan yang ada.
  • fungsi persisapan (the propaedeutic functioudin)  yaitu kurikulum berfungsi mempersiapkan peserta didik melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, seperti untuk melanjutkan ke tingkat sekolah yang lebih tinggi, bahkan ke jenjang persiapan latihan dunia pekerjaan.
  • fungsi pemilihan ( the selective function) yaitu kurikulum berfungsi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minat peserta didik, sehingga kurikulum bersifat luas dan fleksibel.
  • fungsi diagnostic (the diagnostic function), yaitu kurikulum berfungsi sebagai layanan dan bantuan kepada peserta didik untuk mampu memahami dan menerima dirinya, sehingga dapat mengembangkan potensi yang dimiliki dengan mengetahui kekurangan dan kekurangan yang dimilikinya. Peserta didik dapat memperbaiki kelemahan yang dimilikinya dan mengembangkan kemampuan bakat dan minat yang telah dianugrahkan Allah kepadanya dengan cara eksplorasi kemampuan secara maksimal.

Sedangkan jika dilihat dari peruntukkan kurikulumnya, kurikulum memiliki fungsi yang berbeda-beda misalnya ditinjau dari fungsi bagi peserta didik, pendidik, kepala sekolah, orang tua, masyarakat,   sekolah lanjutan di atasnya.

  • Fungsinya bagi anak didik sebagai program pada anak didik sebagai pengalaman baru yang sesuai dengan karakteristik peserta  didik
  • fungsi bagi pendidik, sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisasikan pengalaman belajar  pada peserta didik, dan pedoman untuk mengadakan evaluasi  terhadap perkembangan peserta didik dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan.
  • fungsi bagi kepala sekolah/ Pembina sekolah adalah sebagai pedoman dalam mengadakan supervise, memberikan bantuan kepada guru, tenaga administrator dan mengevaluasi atas kemajuan hasil belajar.
  • Fungsi bagi orag tua sebagai bentuk adanya partisipasi orang tua dalam membantu sekolah dalam memajukan putraputrinya.
  • fungsi bagi sekolah di atasnya sebagai pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan dan sebagai penyiapan tenaga baru dalam pendidikan.
  • fungsi bagi masyarakat sebagai fungsi penyesuaian diri dengan lingkungan, fungsi integrasi dengan lingkungan, perbedaan anatar individu, sebagai  persiapan masa depan, pemilihan dan sebagai diagnostic  dalam memahami dan meneria dirinya dengan potensi yang dimilinya.

Oleh Ruhyana

Leave a comment

Filed under Uncategorized

TIK dalam Pendidikan di Indonesia

Bogor, 17 Oktober 2014

20140924_074911Landasan Strategis pengembangan dan pemanfaatan TIK dalam pendidikan di Indonesia sudah cukup baik. Pertama kita mempunyai Keputusan Presiden Nomor 20 tahun 2006 tentang Dewan TIK Nasional. Selain itu, kita mempunyai Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2008 yang di antaranya meliputi masalah jaringan pendidikan nasional dan interneyt untuk SMA dan sederajat. Begitu juga Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 38 tahun 2008 tentang pengelolaan TIK di lingkungan Depdiknas. Tambahan pula Rencana Strategis Depdiknas 2005-2009 yang antara lain meliput pengembangan dan penggunaan TIK dalam upaya perbaikan pendidikan. Lebih ditegaskan lagi, pada dua tahun terakhir ini, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat secara terus menerus menekankan dan memantau perlunya upaya sungguh-sungguh dari jajaran Depdiknas dalam mencapai sasaran minimal 1 perangkat komputer untuk setiap 20 siswa baik di tingkat SMA maupun SMP atau yang sederajat. Dalam Renstra pendidikan nasional 2005-2009, peran TIK diharapkan mampu menunjang pilar kebijakan pendidikan: perluasan dan pemerataan akses pendidikan;

peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan; dan penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan. Dalam kaitan dengan akses pendidikan telah dimunculkan TV Edukasi sejak tahun 2004 yang merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program pembelajaran. Selain itu sejak 2006, jaringan pendidikan nasional, yang lebih dikenal dengan kependekan Jardiknas, telah dikembangkan yang dapat dimanfaatkan guna keperluan komunikasi data administrasi, konten pembelajaran, serta informasi dan kebijakan pendidikan.
TV Edukasi menurut Gani (2008) telah berkembang dengan jumlah perangkat penerima siaran TV untuk SMP dan MTs yang cukup besar: 80.275 unit Pesawat TV, 33.679 unit DVD Player, 17.412 unit TVRO (Parabola), 2.515 unit Genset (Generator), 50 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan pada saat ini didukung 70 TV Lokal/Kabel sebagai Mitra TVE. Pola Siaran TVE meliputi informasi, tutorial dan pengayaan. Informasi mencakup berita, pola siaran yang berisikan kebijakan, profil guru, dan lain sebagainya. Tutorial yang berkaitan dengan pendidikan formal berisikan materi pembelajaran berdasarkan kurikulum Program SD, SMP, SMA, SMK, PJJ S-1 PGSD konsorsium dan Program S1 PGSD Non Konsorsium. Sedangkan pengayaan berisikan materi pengkayaan dan materi yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Guru.
Jaringan pendidikan nasional pada tahun 2008 ini menghubungkan 24.015 nodes, sesuai dengan Inpres No. 5/2008. Nodes sebanyak itu tersebar pada zona kantor dan zona perguruan tinggi sebanyak 1072 nodes, zona sekolah 15.000 nodes, dan zona perorangan/guru (KKG/MGMP) 7.943 nodes. Jardiknas zona sekolah meliputi 15.000 sekolah: 4.336 SMA, 3.488 SMK, 2.678 MA, 3.057 SMP, 939 MTs, 343 SD, 121 MI, dan 38 SLB.
Terdapat pula upaya lain yaitu penyediaan Internet gratis yang telah dirancang menghubungkan 17.000 SMA dan sederajat. Dirancang adanya schoolNet kelompok SMA dan sederajat melalui Jardiknas Depdiknas: 4.336 SMA, 3.488 SMK, dan 2.678 MA. Selain itu 6.498 sekolah pada tingkat SMA dan yang sederajat dirancang memperoleh penyediaan Internet gratis ini melalui inisiasi CSR DeTIKNas.
Dalam penguatan implementasi Jardiknas dilakukan berbagai upaya seperti standarisasi berdasarkan Permendiknas nomor 38/2008 yang meliputi standarisasi pengelolaan, sistem, konten, SDM TIK, dan keamanan. Selain itu terdapat pelatihan pengembangan TIK untuk guru yang meliputi pengembang TIK untuk TV Edukasi, TIK berbasis online, dan TUK untuk PJJ.

sumber: http://mediapembelajaran-project.blogspot.com/p/tik-dalam-pendidikan-di-indonesia.html

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Blended Learning – applying technology to improve outcomes

Bogor, 17 Oktober 2014

Blended Learning – applying technology to improve outcomes

CIMG1915

At GEMS Education Solutions, we are committed to being at the forefront of blended learning education and have combined our experience running successful schools with some of the world’s leading e-learning experts to ensure we meet our ambitions to deliver education to more students around the world. GEMS has experience in implementation planning, both for ICT and non-technology programmes, for our own schools and also for other clients.

What is blended learning?

‘Blended learning’ is the term used to describe learning delivered both through digital/IT based learning alongside traditional face-to-face methods.  Many schools, Districts, and Local Authorities are recognising the potential blended learning could offer to their own students, but are uncertain how to begin making the operational changes or how to maximise the pedagogical benefits.

GEMS has partnered with leading providers that deliver advanced e-learning around the world, to both businesses and schools, using Very Small Aperture Terminal (VSAT) satellite technology. By deploying e-learning technology, GEMS can provide a gateway
 to global knowledge, and an effective channel to reach out across communities.

How does it work?

The system works with a two-way transmission of live, video footage between a teacher in a studio and multiple, ‘virtual’ classrooms in other parts of the country, or another country. Students are able to interact, both with the teacher and with each other, through the virtual classroom interface.

Why use blended learning?

Maximises the level of support from Teacher to Student
Teachers are finding that a blended environment helps them maximise their instructional/teaching time in class, so that students in class can increasingly focus on ‘Higher Order Thinking Skills’ (“HOTS”) and spend less time on passive listening and absorbing.

sumber: http://www.gemseducation.com/solutions/consulting-services/blended-learning/strategy-curriculum?submenuid=5408&parentid=1107 2 Mei 2014

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VIII

Bogor, 9 Oktober 2014

Untuk membantu para Guru Pendidikan Agama Islam SMP di Nusantara yang secara umum mengalami kendala belum tersedia buku yang digunakan guru atau pun siswa , sementara kuririkulum 2013 harus diimplementasikan di sekolah masing-masing, maka kami upload menurut versi yang kami miliki dalam rangka membantu mensukseskan pendidikan agama Islam secara nasional.

Buku Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VIII, klik disini   K8 BG PA – Islam

Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VIII kilik disini  K8 BS PA – Islam

Leave a comment

Filed under Uncategorized

RPP PAI SMP KELAS 8

Bogor, 9 Oktober 2014

Bapak ibu yang memerlukan RPP kurikulum 2013 kelas VIII silahkan download di sini. Akan tetapi RPP ini belum kami perbaiki sesuai dengan permendikbud yang terbaru Permendikbud No. 58 Tahun 2014. Ini masih menggunakan RPP versi lama Permendikbud No. 81A. Sebagai bahan kajian silahkan download.

01. RPP MGMP_kls VIII_Meyakini kitab kitab Alloh mencintai alquran

02 RPP MGMP_kls VIII_Lebih dekat kepada Allah dengan mengamalkan Shalat Sunnah

03 RPP MGMP_kls VIII_Jiwa Lebih tenang dengan banyak melakukan sujud

04. RPP MGMP_kls VIII_IbadahPuasa membentuk pribadi yang bertakwa_Imas Kurniati

05. RPP MGMP_kls VIII_ Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Masa Bani Umayah

06. RPP MGMP_kls VIII_rendah hati, hemat, sderhana_Iis Suryatini

07. RPP MGMP_kls VIII_Meneladani Kemuliaan dan Kejujuran para Rasul Allah_Imas Kurniati

08. RPP MGMP kls VIII_mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal menjauhi yang haram_Iis Suryatini

09. RPP MGMP_kls VIII_Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan VIII

10. RPP MGMP_kls VIII_ Hidup sehat dengan makanan dan minuman yang halal serta bergizi

11. RPP MGMP-kls VIII_menghindari minuman keras judi dan pertengkaran_Tuti Yustiani

silahkan bapak ibu guru yang membuuhkan, silahkan cek lagi dan perbaiki sesuai selera dan panduan permendikbud No. 58 tahu 2014.

Selamat mencoba

Oleh Ruhyana

Leave a comment

Filed under Uncategorized