DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Bogor, 8 Mei 2014

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

(makalah mata kuliah Orientasi Baru dalam Pendidikan Islam)

by. Oleh Ruhyana

A. PENDAHULUAN

Pendidikan pada umumnya merupakan masalah yang tidak pernah selesai (unfinished agenda), dimana pendidikan selalu menjadi pembicaraan yang hangat dan tidak pernah memuaskan baik bagi negara miskin, berkembang maupun negara yang sudah maju. Hal ini menurut Ahmad Tafsir didasari karena manusia secara fitrah menginginkan yang lebih baik, teori pendidikan selalu ketinggalan oleh kebutuhan masyarakat,dan berubahnya pengaruh pandangan hidup.[[1]]

Dengan dasar fitrah manusia ingin lebih baik, teori pendidikan mengikuti kebutuhan masyarakat dan pandangan hidup yang semakin berkembang, maka pendidikan tidak bisa melepaskan diri dari historis dan dasar yang menjadi pijakan kehidupan manusia pada saat itu. Begitu pula dengan pendidikan Islam sebagai bagian dari perkembangan agama Islam di dunia tidak melepaskan dari perkembangan umat Islam dari masyarakat yang relatif sederhana menjadi masyarakat Islam yang semakin komplek dan global.

Pendidikan Islam pada hakikatnya  merupakan    aktivitas pendidikan yang diselenggarakan atau didirikan dengan hasrat dan niat untuk mengejawantahkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam di Indonesia dapat terwujud menjadi beberapa bentuk seperti pondok pesantren, madrasah, pelajaran agama Islam di sekolah, pendidikan Islam dalam keluarga dan masyarakat baik yang bersifat formal maupun non-formal.[[2]]

Pendidikan Islam di Indonesia terwujud dalam berbagai kegiatan institusi tersebut, tidak terlepas dari ajaran Islam itu sendiri sebagai ajaran agama yang rahmatan lil’alamin. Maka pendidikan Islam tidak bisa melepaskan diri dari historis, sosial, ekonomi, politik yang mempengaruhi umat Islam itu sendiri, semakin umat Islam melakukan kontak dengan dunia di sekitarnya, maka pendidikan juga semakin berkembang dan semakin kompleks. Begitu pula ketika dunia Islam masih terbatas pada masa Rasulullah, pendidikan Islam masih relatif sederhana, dan segala persoalan keislaman dapat ditanyakan langsung kepada Beliau atau mendapat jawaban dari al-Quran. Akan tetapi ketika Islam semakin berkembang dan meluas, maka pendidikan Islam pun semakin berkembang sesuai dengan perkembangan dunia saat itu

Dengan perkembangan historis pendidikan Islam sampai saat ini, yang menjadi permasalahan adalah apa yang menjadi dasar-dasar atau landasan yang kokoh dan kuat dalam pendidikan Islam? Bagaimana landasan tersebut secara operasional pendidikan ada dalam pendidikan Islam serta bagaimana hirarkis landasan tersebut dalam pendidikan Islam? Dengan ketiga permasalahan tersebut inilah makalah ini disusun dengan metode deskriptif analisis dengan kajian-kajian yang terbatas.

B. PEMBAHASAN

1. Dasar-dasar Pendidikan Islam

a. Pengertian Dasar Ilmu Pendidikan Islam

Dasar (Arab: Asas; Inggris: Foudation; Perancis:  Fondement;  Laitn: Fundamentum) secara bahasa berarti alas, fundamen, pokok atau pangkal segala sesuatu ( pendapat, ajaran, aturan).[[3]] Dasar menurut Ramayulis, adalah landasan untuk berdirinya sesuatu.[[4]] Maka fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu. Dasar mengandung pengertian sebagai berikut: Pertama,  sumber dan sebab adanya sesuatu. Umpamanya, alam rasional adalah dasar alam inderawi. Artinya, alam rasional merupakan sumber dan sebab adanya alam inderawi. Kedua, proposisi paling umum dan makna paling luas yang dijadikan sumber pengetahuan, ajaran atau hukum. Umpamanya, dasar induksi adalah prinsip yang membolehkan pindah dari hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang umum. Dasar untuk pindah dari ragu kepada yaqin adalah kepercayaan kepada Tuhan bahwa Dia tidak mungkin menyesatkan hamba-hambaNya.[[5]]

Dasar ilmu pendidikan Islam tentu saja didasarkan pada falsafah hidup umat Islam dan tidak didasarkan kepada falsafah hidup suatu negara, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ajaran itu bersumber dari al-Qur`an, sunnah Rasulullah saw, (selanjutnya disebut Sunnah), dan ra`yu ( hasil pikir manusia). Tiga sumber ini harus digunakan secara hirarkis. Al-Qur`an harus didahulukan. Apabila suatu ajaran atau penjelasan tidak ditemukan di dalam al-Qur`an, maka harus dicari di dalam sunnah, apabila tidak ditemukan juga dalam sunnah, barulah digunakan ra`yu. Sunnah tidak bertentangan dengan al-Qur`an , dan ra`yu tidak boleh bertentangan dengan al-Qur`an dan sunnah.

Pada dasarnya semua dasar agama Islam akan kembali kepada kedua sumber utama yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah agar umat Islam tidak tersesat dalam menjalani hidupnya, sebagaimana Sabdanya sebagai berikut:

تَرَكْتُ فِيْكًمْ أَمْرَيْنِ مَاإنْ تَمَسَّكُمْ بِهِمَا فَلَنْ تَضِلُّوْا بَعْدِى : كِتَابَ اللهِ وَسُنِّةَ نَبِيِّهِ

“Aku telah meninggalkan padamu dua perkara, jika kamu berpegang teguh padanya kamu tidak akan sesat sesudahnya, yaitu kitabullah dan sunnah nabinya”.

b. Macam-macam Dasar-dasar Pendidikan Islam

Dasar-dasar pendidikan Islam, secara umum dibagi kepada dasar pokok, dasar tambahan dan dasar oprerasional. Dasar pokok adalah al-Quran dan as-Sunnah, dasar tambahan berupa perkataan dan perbuatan serta sikap para sahabat, ijtihad, mashlahah mursalah,urf. Sedangkan dasar operasional meliputi dasar historis, sosial, ekonomi, politik,psikologis dan fisikologis.

1) Dasar Pokok  dan Tambahan

a) Al-Qur`an

Al-Qur`an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Muhammad saw dalam bahasa Arab yang terang, guna menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. Terjemahan al-Qur`an kedalam bahasa lain dan tafsirannya bukanlah al-Qur`an, dan karenanya bukan nash yang qath`i dan sah dijadikan rujukan dalam menarik kesimpulan ajarannya.[[6]]

Al-Qur`an menyatakan dirinya sebagai kitab petunjuk. Allah swt menjelaskan hal ini didalam firman-Nya:

¨bÎ) #x»yd tb#uäöà)ø9$# Ïöku ÓÉL¯=Ï9 šÏf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x. ÇÒÈ

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (Q.S. Al-Isra`: 9)

Petunjuk al-Qur`an sebagaimana di kemukakan Mahmud Syaltut di kelompokkan menjadi tiga pokok yang disebutnya sebagai maksud-maksud al-Qur`an, yaitu: pertama, Petunjuk tentang aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan serta kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan. Kedua, Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan. Ketiga, Petunjuk mengenai syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubugannya dengan tuhan dan sesamanya.[[7]]

Pengelompokan tersebut dapat disederhanakan menjadi dua, yaitu petunjuk tentang akidah dan petunjuk tentang syari`ah. Dalam menyajikan maksud-maksud tersebut, al-Qur`an menggunakan metode-metode sebagai berikut: Mengajak manusia untuk memperhatikan dan mengkaji segala ciptaan Allah, Menceritakan kisah umat terdahulu kepada orang-orang yang mengerjakan kebaikan maupun yang mengadakan kerusakan, sehingga dari kisah itu manusia dapat mengambil pelajaran tentang hukum sosial yang diberlakukan Allah terhadap mereka., Menghidupkan kepekaan bathin manusia yang mendorongnya untuk bertanya dan berfikir tentang awal dan materi kejadiannya, kehidupannya dan kesudahannya,sehingga insyaf akan Tuhan yang menciptakan segala kekuatan, dan Memberi kabar gembira dan janji serta peringatan dan ancaman.

Menurut M. Quraish Shihab hubungan al-Qur`an dan ilmu tidak di lihat dari adakah suatu teori tercantum di dalam al-Qur`an, tetapi adakah jiwa ayat-ayatnya. menghalangi kemajuan ilmu atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Qur`an yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan. Kemajuan ilmu tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur terciptanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu itu.[[8]] Dalam hal ini para ulama` sering mengemukakan perintah Allah SWT langsung maupun tidak langsung kepada manusia untuk berfikir, merenung, menalar dan sebagainya, banyak sekali seruan dalam al-Qur`an kepada manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran dikaitkan dengan peringatan, gugatan,atau perintah supaya ia berfikir, merenung dan menalar.

Sedangkan menurut al-Syaibani, dalam al-Quran terdapat unsur-unsur perutusan Nabi Muhammad Saw baik berupa akidah, ibadah, dan perundang-undangan yang menjadi dasar tujuan pendidikan Islam.[[9]] Seperti perutusan Nabi Muhammad Saw mendirikan masyarakat manusia yang bersih, bersih akidah, bersih hubungan dan bersih perasaan dan tingkah laku. Maka pendidikan yang didasari al-Quran adalah pendidikan yang mementingkan pembinaan pribadi dari segala seginya dan menekankan kesatuan manusia yang tidak ada perpisahan antara jasmani, akal dan perasaan.

b) Sunnah 

            Al-Qur`an disampaikan oleh Rasulallah saw kepada manusia dengan penuh amanat, tidak sedikitpun ditambah ataupun dikurangi. Selanjutnya, manusialah hendaknya yang berusaha memahaminya, menerimanya dan kemudian mengamalkannya.

Sering kali manusia menemui kesulitan dalam memahaminya,dan ini dialami oleh para sahabat sebagai generasi pertama penerima al-Qur`an. Karenanya mereka meminta penjelasan kepada Rasulallah saw, yang memang diberi otoritas untuk itu. Allah SWT menyatakan otoritas dimaksud dalam firman Allah SWT di bawah ini:  

Ï…3 !$uZø9t“Rr&ur y7ø‹s9Î) tò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌh“çR öNÍköŽs9Î) öNßg¯=yès9ur šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÍÍÈ “…….dan Kami turunkan kepadamu al-Dzikri (Al Quran), agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir” (Q. S. al-Nahl, 44).

Penjelasan itu disebut al-Sunnah yang secara bahasa al-Thariqoh yang artinya jalan, adapun hubungannya dengan Rasulullah saw berarti perkataan, perbuatan, atau ketetapannya

Para ulama meyatakan bahwa kedudukan Sunnah terhadap al-Qur`an adalah sebagai penjelas. Bahkan Umar bin al-Khaththab mengingatkan bahwa Sunnah merupakan penjelasan yang paling baik. Ia berkata “ Akan datang suatu kaum yang membantahmu dengan hal-hal yang subhat di dalam al-Qur`an. Maka hadapilah mereka dengan berpegang kepada Sunnah, karena orang-orang yang bergelut dengan sunah lebih tahu tentang kitab Allah SWT.

Menurut Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan dalam lapangan pendidikan sunnah mempunyai dua faedah:

1) Menjelaskan sistem pendidikan Islam sebagaimana terdapat di dalam al-Qur`an dan menerangkan hal-hal rinci yang tidak terdapat di dalamnya

2) Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat di praktikkan.[10]

Dengan adanya sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah al-Quran, maka dalam pendidikan apa yang dijelaskan Rasulullah baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir akan menjadi sumber dasar dalam pendidikan baik sebagai simtem pendidikan maupun metodologi pendidikan Islam yang harus dijalani. Apalagi secara ilmiah, Rasulullah dengan al-Quran dan penjelasan Rasul berupa sunnah selama 23 tahun saja dapat sukses melakukan perubahan peradaban masyarakat Arab dari Jahiliyah menjadi peradaban madani. Padahal biasanya perdaban itu dibentuk minimal 100 tahun yang telah berjalan.

c. Ra`yu

Masyarakat selalu mengalami perubahan, baik pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang dan sebagainya.[[11]]

Pendidikan sebagai lembaga sosial akan turut mengalami perubahan sesuai dengan perubahan yang tejadi di masyarakat. Kita tahu perubahan-perubahan yang ada di zaman sekarang atau mungkin sepuluh tahun yang akan datang mestinya tidak dijumpai pada masa Rasulullah saw, tetapi memerlukan jawaban untuk kepentingan pendidikan di masa sekarang. Untuk itulah diperlukan ijtihad dari pendidik muslim.

Dasar hukum yang memboleh ijtihad dengan penggunaan ra’yu adalah sebuah hadits percakapan Rasulullah dengan Muaz bin Jabal ketika akan diutus di Yaman.

Artinya,” Hai Muaz: Jika engkau diminta memutuskan perkara, dengan apakah engkau memutuskannya?”. Muaz menjawab; dengan Kitab Allah (al-Quran), maka Rasulullah bersabda; Kalau engkau tidak mendapati (dalam al-Quran itu)” kata Muaz: “dengan Sunnah Rasulullah”, Rasulullah bersabda kembali; Jika engkay tidak mendapati di situ?’ Muaz menjawab,” Saya berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan kembali”.

Ijtihad pada dasarnya merupakan usaha sungguh- sungguh orang muslim untuk selalu berprilaku berdasarkan ajaran Islam. Untuk itu manakala tidak ditemukan petunjuk yang jelas dari al-Qur`an ataupun Sunnah tentang suatu prilaku ,orang muslim akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menemukannya dengan prinsip-prinsip al-Qur`an atau Sunnah.

            Ijtihad sudah dilakukan para ulama sejak zaman shahabat. Namun, tampaknya literatur-literatur yang ada menunjukkan bahwa ijtihad masih terpusat pada hukum syara’, yang dimaksud hukum syara’,menurut Ali Hasballah ialah proposisi-proposisi yang berisi sifat-sifat syariat (seperti wajib, haram, sunnat) yang di sandarkan pada perbuatan manusia, baik lahir maupun bathin.[12] Kemudian dalam hukum tentang perbuatan manusia ini tampaknya aspek lahir lebih menonjol ketimbang aspek bathin. Dengan perkataan lain, fiqih zhahir lebih banyak digeluti dari pada fiqih bathin. Karenanya, pembahasan tentang ibadat, muamalat lebih dominan ketimbang kajian tentang ikhlas, sabar, memberi maaf, merendahkan diri, dan tidak menyakiti oang lain. Ijtihad dalam lapangan pendidikan perlu mengimbangi ijtihad dalam lapangan fiqih (lahir dan bathinnya)   

Berdasarkan ra’yu sebagai dasar tambahan, sumber pendidikan Islam pada masa Khulafa ar-Rasyidin sudah mengalami perkembangan, dimana selain al-Quran dan as-Sunnah, perkataan, sikap dan perbuatan para sahabat dapat dijadikan pegangan dasar pendidikan Islam. Diantara beberapa perkataan, perbuatan dan sikap para sahabat, menurut para ahli sejarah Islam antara lain sebagai berikut:

1) Abu Bakar melakukan kodifikasi al-Quran

2) Umar bi Khattab sebagai bapak reaktutor terhadap ajaran Islam yang dapat dijadikan sebagai strategi pendidikan Islam

3) Usman bin Affan sebagai bapak pemersatu sistematika penulisan ilmiah melalui upaya mempersatukan sistematika penuliasan al-Quran

4) Ali bin Abi Thalib sebagai perumus konsep-konsep pendidikan.[13]

Setelah Islam mengalami perkembangan wilayah sampai ke Afrika Utara bahkan Spanyol,maka pusat pendidikan Islam tersebar di kota-kota besar seperti Makkah dan Madinah ( Hijaz), Basrah dan Kuffah(Iran), Damsyik dan Palestina, dan Fustat (Mesir). Dengan meluasnya wilayah Islam, maka masalah pendidikan Islam mengalami perkembangan baru sebagai interaksi dengan nilai-nilai daerah kekusaan Islam pada saat itu, sehingga memerlukan pemikiran yang mendalam untuk mengatasi permasalahan tersebut, yang dikenal dengan proses ijtihad.

Ijtihad di bidang pendidikan ternyata semakin perlu, sebab ajaran Islam yang terdapat dalam al-Quran dan as-sunnah hanya berupa prinsip-prinsip pokok saja. Hal ini dilakukan para ulama dengan kompetensi yang mereka untuk memerinci hukum-hukum Islam, sebagaimana kita ketahui ulama di bidang fikih ( Fuqaha), seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanafi dan Imam Ahmad bin Hambal menghasilkan beberapa produk hukum fikih hasil ijtihad yang mereka lakukan. Begitu pula di bidang tafsir, akhlak, dan pendidikan, Hal ini didasarkan sebuah hadits Rasulullah saw tentang anjuran melakukan ujtihad,

Artinya,” Apabila hakim telah menetapkan hukum, kemudian dia berijtihad dan ijtihadnya itu benar, maka baginya dua pahala, akan tetapi apabila ia berijtihad dan ternyata ijtihadnya salah, maka baginya satu pahala” ( HR. Bukhari Muslim dan Amr bin Ash).

Berikutnya dasar hasil pemikiran ra’yu adalah mashlahah mursalah (kemaslahatan umat) yaitu menetapkan peraturan atau ketetapan undang-undang yang tidak disebutkan dalam al-Quran dan as-Sunnah atas pertimbangan penarikan kebaikan dan menghindarkan kerusakan.[14] Penarikan kebaikan dan menghindar kerusakan bisa diterima selama tidak menyalahi keberadaan-keberadaan al-Quran dan as-Sunnah,benar-benar membawa kemaslahatan.

Mashlahah mursalah ini, menurut Abdul Wahhab Khallaf dalam Ramayulis, diterima sebagai dasar pendidikan Islam selama tidak menyalahi keberadaan al-Quran dan as-Sunnah, benar-benar membawa kemaslahatan, menolak kemudaratan setelah melalui tahapan observasi, dan kemaslahatan yang bersifat universal untuk totalitas masyarakat.[15]

Selain mashlahah mursalah yang dapat menjadi dasar pendidikan Islam hasil ra’yu adalah berupa ‘Urf, yaitu nilai-nilai dan istiadat masyarakat. Menurut Al Sahad al-Jundi dalam Ramayulis,’Urf diartikan sesuatu yang tertanam dalam jiwa berupa hal-hal yang berulang dilakukan secara rasional menurut tabiat yang sehat.[16] Dasar pendidikan dengan mashlahah mursalah dan ‘urf ini dapat dijadikan asas pendidikan selama tidak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.

2) Dasar Operasional Pendidikan Islam

Dasar-dasar oprerasional pendidikan Islam yang terbentuk sebagai aktualisasi dari dasar ideal, menurut Hasan Langgulung ada enam macam, yaitu dasar historis, dasar sosial, dasar ekonomi, dasar politik, dasar psikologis dan dasar fisiologis.[17]

Dasar historis adalah pengalaman masa lalu berupa peraturan dan budaya masyarakat sebagai mata rantai yang berkelanjutan dari cita-cita dan praktik pendidikan Islam. Sedangkan dasar sosial adalah dasar yang memberikan kerangka budaya dimana pendidikan berkembang. Dasar ekonomi merupakan yang memberikan persepektif terhadap potensi manusia berupa materi dan persiapan yang mengatur sumber-sumbernya yang bertanggung jawab terhadap anggaran pembelajaannya. Dasar politik sebagai dasar yang memberikan bingkai dan ideologi dasar yang digunakan sebagai tempat bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang dibuat.

Dasar psikologis adalah dasar yang memberikan informasi tentang watak peserta didik, guru dalam proses pendidikan. Dasar fisiologis merupakan dasar yang memberikan kemampuan memilih yang terbaik, sistem dan mengontrol dalam menentukan yang terbaik untuk dilaksanakan.

Dengan dasar-dasar pendidikan secara operasional bagaimana pendidikan Islam secara idealitas dan bagaimana pendidikan Islam secara realitas telah berjalan dalam kurun waktu 14 abad. Pendidikan Islam yang terjadi antara suatu negara secara operasional akan mengalami perbedaan. Hal ini karena perkembangan historisnya tidak sama, begitu pula secara sosial, psikologi, politik yang menentukan arah dan pelaksanaan pendidikan Islam di suatu negara.

D.  KESIMPULAN

Dari uraian di atas, pemakalah menyimpulkan sebagai berikut:

1. Pendidikan merupakan proses yang unfinished, karena perkembangan pendidikan sejalan dengan kebutuhan manusia ke arah yang lebih baik, sehingga perbaikan pendidikan terjadi mengikuti perkembangan kebutuhan yang terjadi pada masyarakat pengguna pendidikan.

2. Dasar yang melandasi pendidikan Islam bersumber dari al-Quran, as-Sunnah, dan ra’yu. Ketiga sumber pokok tersebut digunakan secara hirarkis,di mana jika al-Quran yang bersifat global sebagai pijakan utama, dioperasionalkan dengan penjelasan as-Sunnah. Jika dalam kedua sumber tersebut tidak ditemukan maka penggunaan ra’yu hasil ijtihad para ahli dapat dijadikan rujukan dalam pendidikan Islam. Ijtihad dalam penggunaan ra’yu ini tidak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.

3. Ijtihad sebagai hasil penggunaan ra’yu dalam dasar pendidikan dapat dilihat dengan apa yang dilakukan para sahabat, mashlahah mursalah, ‘urf yang semuanya dengan mengutamaka segala sesuatu yang mendatangkan perbaikan untuk umat Islam dan tidak bertentangan dengan kaidah al-quran dan as-Sunnah.

4. Sedangkan dasar pendidikan Islam secara operasional dan realitas bisa ditinjau dari aspek historis, sosiologis, ekonomis, filosofis, psikologis, politik dan fisiologis yang menghasilkan perbaikan-perbaikan pendidikan Islam.

E.  PENUTUP

              Demikian makalah yang kami buat, semoga bermanfaat bagi kita semua dan   menambah pengetahuan kita tentang dasar-dasar pendidikan Islam, dan tentunya makalah yang kami buat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran dari teman-teman sangat dan sungguh kami harapkan. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman al-Nahlawi,(1979), Ushul al-Tarbiyah al- Islamiyah,  Damaskus: Dar al-Fikr

Ahmad Tafsir,(1982),  Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

—————-,(2010), Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Rosdakarya,

Hasan Langgulung,(1998), Azas-Azas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna

Mahmut Syaltut,(1962),  Ila al-Qur`an al-Karim, Cairo: Mathba`ah al-Azhar,

M. Qurais Shihab, (1995), Membumikan  al-Qur`an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan

Muhaimin,(2010), Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum hingga rededifisi Islamisasi Pengetahuan,Bandung: Nuansa

Noer Aly, MA,(tt),  Ilmu Pendidikan Islam. Kudus: Perpustakaan kudus

Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, (1979), Fasafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang

Ramayulis,(2010), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2010, Cet-8

Soerjono Soekanto,(1988),  Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta: Rajawali Pers,

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,(1994),  Kamus Besar Bahasa Indonesia , Jakarta: Balai Pustaka.


[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Rosdakarya, 2010, hlm.43.

[2]Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum hingga rededifisi Islamisasi Pengetahuan,Bandung: Nuansa, 2010, hlm.13

[3]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Balai Pustaka, Jakarta, 1994), hal. 211

[4] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2010, Cet-8,hlm.121

[5]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus, hal. 211

[6]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), hal. 12

[7] Mahmud Syaltut, Ila al-Qur`an al-Karim (Cairo: Mathba`ah al-Azhar, 1962), hal. 11-12

[8]M. Qurais Shihab, Membumikan  al-Qur`an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyaraka,, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 42.

[9]Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, Fasafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang,1979, hlm.427.

[10] Abdurrahman al-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al- Islamiyah, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1979),  cet ke 1, hal. 23-24.

[11] Soerjono Soekanto, Pokok – Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 198), hal. 67-88.

[12] Drs.  Noer Aly, MA, Ilmu Pendidikan Islam. Kudus: Perpustakaan kudus, hal. 48.

[13] Ramayulis, Ilmu, hlm.126

[14] Ramayulis, Ilmu, hlm.129

[15]Ramayulis, Ilmu, hlm.129

[16]Ramayulis, Ilmu, hlm.130

[17] Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1998, hlm.12

Leave a comment

Filed under dasar-dasar pendidikan islam, landasan pendidikan islam, orientasi pendidikan islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s