TOLERANSI DAN KETERBUKAAN TERHADAP KEBUDAYAAN LAIN

 Bogor, 20 April 2014

  1. PENDAHULUAN

Kemunduran dunia Islam yang masih terus berlangsung hingga saat ini, tidak dapat dipungkiri, telah berdampak negatif terhadap kondisi umat Islam secara internasional. Kaum muslim di berbagai belahan dunia terus menjadi bulan-bulanan para musuh Islam, tanpa mampu memberikan perlawanan yang berarti. Terutama dalam bidang pemikiran, umat Islam pada saat sekarang tengah berada di pusaran arus perang pemikiran (al-ghazwu al-fikriy) yang dahsyat. Jaringan global musuh-musuh Islam gencar melakukan upaya “pencucian otak” terhadap umat Islam dengan cara menyerang konsep-konsep/ajaran-ajaran Islam di satu sisi, dan pada saat bersamaan mendesakkan konsep-konsep pemikiran mereka. Targetnya adalah menjadikan umat Islam secara perlahan-lahan terjauh, atau setidak-tidaknya mengalami pendangkalan pemahaman, dari ajaran-ajaran agamanya.Salah satu aspek ajaran Islam yang pada saat ini banyak mendapat sorotan tajam adalah konsep tentang toleransi.Kaum Zionis dan Barat gencar mengkampanyekan bahwa Islam adalah agama yang anti toleransi.

Guna mengantisipasi dampak negatif dari gelombang perang urat syaraf yang mencemaskan ini, tentunya sangat diperlukan usaha bersama segenap umat Islam untuk kembali berusaha menggali serta menghayati konsep Islam tentang toleransi yang kini sedang diusahakan untuk dikaburkan. Umat Islam, terutama generasi muda, harus diberikan pemahaman yang benar tentang konsepsi ini.Dalam kerangka inilah tulisan singkat ini dimaksudkan, atau, meminjam istilah Yusuf Qaradhawi, ia ditujukan untuk menjelaskan konsepsi yang sebenarnya (taudhîh al-haqâiq), menghilangkan keragu-raguan (izâlah al-syubuhât), serta meluruskan persepsi yang keliru (tashhîh al-afhâm).

Dalam tulisan yang sangat sederhana berikut ini, penulis berusaha mengelaborasi secara tematis konsep Islam tentang toleransi dan keterbukaan terhadap budaya  selain Islam dengan menggali bagaimana toleransi dan keterbukaan berpengaruh kepada akhlak dan pengetahuan dalam peradaban Islam. Pembahasan akan difokuskan kepada bagaimana kedudukan pengaruh toleransi dan keterbukaan terhadap filsafat akhlak dan prinsip epistemology, bagaimana aturan keterbukaan terhadap budaya luar, wilayah keterbukaan apa saja yang boleh dirambah, bagaimana memanfaatkan kajian Barat tentang Islam dan bagaimana kesatuan ilmu dalam peradaban Islam?

  1. PEMBAHASAN
  2. PENGARUH TOLERANSI DAN KETERBUKAAN TERHADAP AKHLAK DAN PENGETAHUAN
  3. Kedudukan Toleransi dan Keterbukaan dalam Islam

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata toleransi berarti sifat atau sikap toleran.[1] Kata toleran sendiri didefinisikan sebagai “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.[2]

Kata toleransi sebenarnya bukanlah bahasa “asli” Indonesia, tetapi serapan dari bahasa Inggris “tolerance”, yang definisinya tidak jauh berbeda dengan kata toleransi/toleran. Menurut Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, toleransi adalah quality of tolerating opinions, beliefs, customs, behaviors, etc, different from one’s own.[3] Lebih lanjut menurut Abdul Malik Salman, kata tolerance sendiri berasal dari bahasa latin “tolerare” yang berarti “berusaha untuk tetap bertahan hidup, tinggal, atau berinteraksi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai atau disenangi.[4]Dengan demikian, pada awalnya dalam makna tolerance terkandung sikap keterpaksaan.

Adapun alam bahasa Arab, istilah yang lazim dipergunakan sebagai padanan dari kata toleransi adalah سماحة atau تسامح.Kata ini pada dasarnya berarti al-jûd (kemuliaan), [5]atau sa’at al-shadr (lapang dada) dan tasâhul (ramah, suka memaafkan).[6] Makna ini selanjutnya berkembang menjadi sikap lapang dada/ terbuka (welcome) dalam menghadapi perbedaan yang bersumber dari kepribadian yang mulia.[7] Dengan demikian, berbeda dengan kata tolerance yang mengandung nuansa keterpaksaan, maka kata tasâmuh memiliki keutamaan, karena melambangkan sikap yang bersumber pada kemuliaan diri (al-jûd wa al-karam) dan keikhlasan.

Toleransi dalam Islam mengandung dua hal penting , pertama berkaitan dengan filsafat akhlak sebagai prinsip kemudahan, dan kedua berkaitan dengan  epistemologi yaitu prinsip keleluasaan.[8] Prinsip kemudahan dalam filsafat akhlak  didasarkan pada kaidah ushul, sesuatu yang diinginkan diperbolehkan secara hukum sampai terbukti ketidakbolehannya secara syariat.

Islam merupakan agama yang toleran dan mudah serta tidak tertutup.[9] Hal ini terpancar dalam  keaslian dan kekuatan internal Islam sebagai agama yang terbuka dengan kebudayaan-kebudayaan lain dengan ketentuan tertentu selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariah islam yang dianutnya.

Toleransi sebagai sikap membiarkan orang-orang mempunyai keyakinan lain dan menerima pernyataan itu karena mengakui kebebasan setiap orang dalam keyakinan hatinya.[10]Dasar toleransi adalah pengakuan atas hak kodrati manusia sendiri dan penghargaan atas hati nuraninya yang mengambil keputusan bagi dirinya dalam memeluk suatu keyakinan.Sekalipun memiliki toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, tetap menuntut harus memiliki sikap tegas dalam arti tidak condong dan tidak serong.[11]

Harus disadari bahwa manusia tidak diciptakan dalam persatuan dan tidak pula diciptakan dalam satu kesatuan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syuraa: 8.

Artinya,” Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya, sedagkan orang-oranf zalim tidak akan mendapat seorang pun penolong”.

Perbedaan dalam agama merupakan  sebuah keniscayaan  yang secara umum dapat melahirkan kerjasama yang saling menguntungkan dan dapat memperindah penampilan sebuah bangsa di mata dunia. Akan tetapi realitas di masyarakat  terkadang manusia berlaku seakan seperti Tuhan yang membenarkan pendapat sendiri dan menyalahkan pendapat orang lain. Padahal Allah saja tidak pernah menunjukkan hidung seseorang, akan tetapi hanya memberikan ciri-ciri atau tanda-tandanya saja.[12]

Toleransi dalam Islam sebagai bingkai utuh menuju tercapainya kedamaian yang menyeluruh didasari ayat-ayat al-Quran sebagai dasar hukum Islam yang utama  sebagai berikut;

1)   mengutamakan kepentingan orang lain

195. dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Baqarah (2): 195

2)   Membangun hubungan baik

8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.( QS. Al Mumtahanah (60): 8)

3)   Melakukan kerjasama

6. dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At-Taubah: 9)

4)   Silaturahmi dan dialog yang baik

47. dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran)[1155]; dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. dan Tiadalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. ( QS. Al Ankabut (29): 47)

5)   Saling menjaga kehormatan agama

40. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan Kami hanyalah Allah”. dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, ( QS. Al Hajj: 40)

6)   Tidak boleh ada dendam dalam agama

99. dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus : 99)

 

  1. Toleransi sebagai filsafat akhlak

Toleransi sebagai filsafat ahlak berhubungan dengan sisi kemudahan dalam hidup seorang muslim. Dasar pijakannya adalah segala sesuatu itu diperbolehkan sampai ada dalil yang mengharamkannya.

Jika dicermati dengan seksama, pemahaman tentang toleransi tidak dapat berdiri sendiri.Ia terkait erat dengan suatu realitas lain di alam yang merupakan penyebab langsung dari lahirnya toleransi. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Memahami toleransi an sich tidak akan ada artinya tanpa memahami realitas lain tersebut, yaitu kemajemukan (pluralisme; bahasa Arab: ta’addudiyyah).Dengan demikian, untuk dapat bertoleransi dengan baik, maka pemahaman terhadap pluralisme terlebih dahulu mutlak diperlukan.

Secara etimologis, kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris “plural” yang berarti banyak (antonim dari kata singular).[13] Dalam perkembangannya, kata ini secara lebih spesifik ditujukan terhadap realitas masyarakat yang majemuk.[14] Artinya, masyarakat yang heterogen dalam satu aspek atau lebih, seperti dalam hal keturunan, pemikiran, tingkah laku, kepercayaan, adat istiadat, agama, dan sebagainya.Kemajemukan ini lahir melalui proses-proses tertentu, disadari atau tidak, atau dikehendaki maupun tidak dikehendaki.

Butir-butir piagam yang menegaskan toleransi beragama, antara lain, sikap saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyakiti serta saling melindungi mereka yang terikat dalam Piagam Madinah.

Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan.Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu.Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial).Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar.Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.

Banyak sekali kita temukan individu muslim yang menganggap, saling menghormati dan saling menghargai suatu agama adalah suatu keharusan tanpa adanya peraturan yang saling membatasi. Bahkan, mungkin sampai mempunyai keyakinan bahwa semua agama itu sama dan benar semua, baik dalam segi sosial maupun akidah.

Maka, terjebaklah mereka dalam konsep pluralisme teologis (ber-akidah) yang tidak dibenarkan dalam Islam. Plurarisme sebagai aliran filsafat yang menganggap semua agama benar, semua bentuk ‘ubudiyah yang dilakukan masing-masing pemeluk agama adalah jalan yang menuju kepada titik yang sama.

Muslim diajari dengan tegas mana yang terkait dengan akidah ‘ubudiyah (teologis) dan mana yang terkait dengan persoalan sosial dan budaya (sosiologis).Karena itu, dalam konteks akidah atau keyakinan, umat Islam harus tegas.Tetapi, dalam hal sosial, umat Islam harus fleksibel dan toleran.Maka, di sinilah batasan-batasan toleransi itu.

 

  1. Toleransi sebagai prinsif epistemologi

Secara epistemologi toleransi berpijak kepada sikap percaya terhadap fitrah manusia yang memiliki potensi kebaikan dalam diri setiap manusia, walaupun pada realitasnya terjadi penyimpangan sebagai pengaruh lingkungan yang sangat dominan.Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi perdamaian sebagai salah satu ciri utama agama Islam.Hal ini menurut Quraish Shihab berkaitan dengan Islam sebagai agama yang mendambakan perdamaian. Seperti nampak dalam ucapan yang selalu diucapkan ketika bertemu orang muslim lainnya dengan, ‘Assalamu ‘Alaikum” (damai itu untuk anda).[15]

Quraish Shihab menambahkan Islam sebagai agama  tidak hanya menuntut pengorbanan apapun dari pemeluknya untuk mempertahankan kelestariannya, akan tetapi Islam juga mengakui eksistensi agama-agama lain dan memberinya hak untuk hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk-pemeluk agama lain.[16]

Secara sosiologis, manusia merupakan makhluk yang bermasyarakat. Kehidupannya di atas dunia ini bersifat dependen, dalam arti eksistensinya, baik secara individual maupun komunal, tidak bisa lepas dari “campur tangan” pihak lain. Al-Quran menyebut salah satu fase penciptaan manusia dengan ‘alaq yang selain dapat dipahami sebagai “keadaan berdempet pada dinding rahim” juga pada hakekatnya menggambarkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan selalu bergantung pada pihak lain, atau dengan kata lain tidak dapat hidup sendiri.[17]

Di sisi lain, dunia yang dihuni manusia bukanlah dunia yang singular- seragam atau semacam. Sebaliknya, Allah menciptakannya penuh dengan keragaman dalam berbagai aspek, seperti lingkungan, atau spesies yang hidup didalamnya.Masing-masing hidup dalam kelompok yang saling berkaitan.[18]Muhammad Imarah menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Allah merupakan objek dari keanekaragaman.Hanya Allah yang benar-benar merupakan satu kesatuan yang mutlak (true unity).[19]

Jika dicermati, Allah SWT sebenarnya banyak menyinggung masalah pluralisme dalam al-Quran. Dalam surat al-Rum (30): 22 misalnya, Allah SWT menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai warna kulit dan bahasa.

22. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Selanjutnya dalam surat al-Hujurat (49): 13, Allah SWT juga menyebutkan penciptaan manusia ke dalam suku-suku dan bangsa-bangsa.

13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Bahkan, dengan redaksi yang lebih mempertegas eksistensi pluralisme, dalam surat al-Maidah (5): 48, Allah SWT kembali berfirman:

48…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Pada ayat diatas Allah SWT menyatakan bahwa jika Dia menghendaki, maka semua manusia dapat saja dijadikan satu (seragam), baik secara fisik, pemikiran, bangsa, ideologi, bahkan agama.Sebagai contoh, jika Allah SWT menghendaki kesatuan pendapat pada seluruh manusia, maka niscaya diciptakan-Nya manusia itu tanpa akal, seperti layaknya binatang atau benda-benda tak bernyawa lainnya yang tidak memiliki kemampuan menalar, memilah, dan memilih.Akan tetapi hal tersebut tidak diinginkan-Nya. Kesan ketidakinginan ini tercermin dari penggunaan kata (harf) “لو“ yang dalam ilmu kaedah bahasa Arab berarti “pengandaian yang mengandung makna kemustahilan”.[20]Dengan memahami berbagai penjelasan diatas, maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya dalam kacamata Islam, pluralisme di alam merupakan suatu kepastian/ keniscayaan , sama halnya dengan hukum-hukum alam lain yang diciptakan Allah SWT. Hukum-hukum ini diistilahkan al-Quran dengan sunnatullah, dimana tidak ada perubahan padanya (surat al-Ahzab (32): 62).

Sebagai sebuah sunnatullah, kemajemukan yang melandasi setiap sendi kehidupan manusia, tentu saja tidak terlepas dari latar belakang, sebab dan tujuan. Dari kutipan beberapa ayat diatas akan didapati kesan bahwa realitas tersebut sarat manfaat, tidak saja bagi manusia, namun juga bagi alam secara keseluruhan. Dalam surat al-Rum (30): 22 diatas, umpamanya, Allah SWT menyatakan bahwa kemajemukan merupakan salah satu tanda kebesaran dan manifestasi kemahakuasaan-Nya.

Demikian juga pada surat al-Hujurat (49); 13 diterangkan bahwa dijadikannya manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah dalam rangka ta’âruf (saling mengenal). Akan tetapi, ta’âruf yang dimaksud tentu saja tidak berhenti pada makna kebahasaan saja, yaitu “keadaan saling mengenal”, namun ditekankan kepada dampak turunannya yang lebih besar, yaitu saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk kemudian saling bekerjasama dan mengambil manfaat (keuntungan). Hasilnya, akan timbul lompatan-lompatan kemajuan (taqaddum) dalam peradaban umat manusia itu sendiri.[21]

Tidak berhenti disitu, dalam ayat ketiga, Allah SWT menambah lagi deretan hikmah yang akan didapatkan manusia dengan Pluralisme, yaitu terciptanya iklim attasâbuq fî al-khairât (kompetisi dalam amal-amal kebaikan). Secara psikologis, jika seseorang berada dalam situasi yang plural, maka ia akan terdorong untuk berkompetisi dengan orang lain. Artinya, ia akan dihadapkan pada tantangan untuk menjadi lebih baik dari yang lain. Dinamika kehidupan yang seperti ini, pada akhirnya, akan menciptakan individu-individu, selanjutnya masyarakat, yang aktif, dinamis, dan kreatif. Kejumudan dalam kehidupan, pada hakikatnya menghinggapi manusia dikarenakan ia terlahir pada situasi masyarakat yang singular dan tidak memiliki spirit kompetisi.

Islam sebagai agama dapat dipahami makna nama agama Islam itu sendiri, di mana Islam berarti kedamaian.[22] Seperti terealisasi dalam ucapan dan perbuatan seorang muslim setiap kali pertemuan dengan mengucapkan “ Assalamu ‘Alaikum’ yang berarti semoga kedamaian untuk Anda. Kedamaian ini bukan hanya untuk diri sendiri, akan tetapi juga untuk orang lain.

Dengan ide dasar Islam sebagai agama kedamaian  dan menjunjung tinggi perdamaian maka toleransi merupakan pelaksanaan ajaran Islam secara eksistensi. Secara eksistensi Islam menuntut pengorbanan apapun dari pemeluknya demi mempertahankan kelestariannya, akan tetapi juga mengakui eksistensi agama-agama lain untuk hidup berdampingan. Seperti tercantum dalam QS.al-An’am (6): 108, al-Baqarah (2):256, al-Kafirun (109):6, al-Hajj (22):40 dan an-Nahl (16):93.

Suatu realitas yang sukar untuk dipungkiri bahwa pluralisme dalam masyarakat mesti sarat dengan “gesekan-gesekan”. Ta’âruf atau interaksi sosial yang dijalin antar individu/ masyarakat, pada hakikatnya, sangat berpotensi melahirkan tarik ulur kepentingan yang bisa mengarah kepada hal-hal yang destruktif. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan, sebagai ciri khas masing-masing individu dan masyarakat, tersebut mesti disikapi secara positif dan konstruktif sehingga tidak merugikan diri sendiri.Dengan demikian, pluralisme membutuhkan aturan-aturan main yang jelas untuk menjamin terpeliharanya kemaslahatan masing-masing pihak.

Dengan memahami hal diatas, tidaklah mengherankan jika al-Quran, yang memang diturunkan untuk mendorong terwujudnya kemaslahatan manusia- atau dalam ungkapan khas al-Quran “ikhrâju al-nâs min al-dzulumât ila al-nûr”, sangat konsern dengan hukum-hukum yang mengatur hubungan antar manusia. Penggalan awal surat al-Mudassir, yang termasuk salah satu surat yang pertama kali turun, umpamanya, telah memuat hukum-hukum penting yang berkaitan dengan pemeliharaan keharmonisan dalam masyarakat.[23]

Dalam kaitannya dengan kemajemukan ditengah masyarakat, al-Quran menggelari umat Islam sebagai “ummatan wasathan” (umat pertengahan/moderat). Menurut Quraish Shihab, kata al-wasat sendiri pada awalnya berarti segala yang baik sesuai dengan objeknya. Sementara itu, sesuatu yang baik biasanya selalu berada diantara dua posisi ekstrim.Contohnya, keberanian adalah sifat pertengahan antara ceroboh dan takut, sementara kedermawanan merupakan pertengahan antara sifat boros dan kikir. [24] Dalam kaitannya dengan respon umat Islam terhadap pluralisme, al-Quran juga memberikan solusi “jalan tengah”.Tujuannya, agar umat Islam tetap terpelihara al-wasathiyah-nya.Solusi dimaksud adalah pertengahan antara sikap ta’ashub (fanatisme) dan liberal, yang kemudian dikenal dengan istilah samâhah atau tasâmuh (toleransi).

Jika dicermati dengan seksama, kata tasâmuh atau samahâh sendiri sebenarnya tidak ditemukan dalam al-Quran.Meskipun demikian, hal tersebut tentu saja tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa al-Quran tidak menyinggung serta mengajarkan toleransi. Ajaran al-Quran tentang hal ini, antara lain dapat ditelusuri dari penjelasannya tentang keadilan (al-‘adl atau al-qisth), kebajikan (al-birr), perdamaian (al-shulh atau al-salâm), dan lain sebagainya. Bahkan, penamaan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini dengan “al-Islâm”, sebenarnya telah cukup menjadi bukti bahwa kedatangan Islam adalah untuk menghadirkan rahmat dan kedamaian bagi alam semesta. Sementara itu, kedamaian tidak akan terwujud tanpa adanya suasana toleransi ditengah realitas kemajemukan yang tidak terhindarkan.

Diatas telah dijelaskan bahwa toleransi merupakan sikap terbuka dalam menghadapi perbedaan.Didalamnya terkandung sikap saling menghargai dan menghormati eksistensi masing-masing pihak.Dalam kehidupan yang toleran, keseimbangan dalam hidup mendapatkan prioritasnya.Keanekaragaman tidak diposisikan sebagai ancaman, namun justru peluang untuk saling bersinergi secara positif.Dalam kacamata Islam, sikap seperti ini harus tetap dipelihara selama tidak ada pihak-pihak yang mencoba untuk merusak tatanan hidup yang ada tersebut. Hal ini berarti, jika keharmonisan dalam kemajemukan telah dirongrong oleh satu atau beberapa pihak, maka secara otomatis keberlangsungan toleransi akan turut terancam. Artinya, dibutuhkan sikap tegas dalam menghadapinya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.

 

9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas sikap toleran yang pernah ditunjukkan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, serta generasi-generasi muslim sesudahnya, baik terhadap sesama mereka maupun terhadap pihak-pihak lain yang, terutama, tidak seagama. Ajaran Islam yang terpatri kuat di dada mereka telah melahirkan sikap lapang dada yang luar biasa dalam menerima perbedaan yang ada.Perbedaan suku, umpamanya, tidak sedikitpun merintangi kaum Anshar untuk menerima dengan baik saudara-saudara mereka kaum Muhajirin, meskipun pada saat bersamaan mereka juga tidak bisa dikatakan berkecukupan secara material.[25]

Demikian juga perbedaan warna kulit dengan yang lain, tidak pernah menghalangi Bilal untuk menjadi muazin Rasul SAW dan kaum muslim, sebagaimana perbedaan bangsa juga tidak merintangi Salman al-Farisi untuk menjadi orang yang dekat dengan Rasulullah SAW. [26]Sebaliknya, semua muslim mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya dengan sebaik-baiknya (baca: beramal salih), tanpa harus teralienasi hanya karena perbedaan fisik, bahasa, atau suku bangsa. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda

كلكم لآدم و آدم من تراب الآ لا فضل لعربى على اعجمى الا بالتقوى ( رواه احمد(
Kamu semua adalah keturunan Adam sedang Adam diciptakan dari debu. Tidak ada perbedaan antara Arab dengan yang lainnya, kecuali dengan ketakwaan” (HR. Ahmad).

Demikian juga halnya terhadap pihak-pihak yang berlainan agama, Rasulullah SAW tidak pernah mendiskreditkan eksistensi mereka atas dasar perbedaan akidah. Malah sebaliknya, Nabi SAW menerima dengan baik keberadaan mereka ditengah-tengah masyarakat muslim dan tidak sedikitpun memaksa mereka untuk mengikuti ajaran Islam.

Cukup banyak bukti historis yang dapat dikemukakan untuk mendukung klaim keadilan, kemanusiaan, kasih sayang, dan kebersamaan yang pernah ditunjukkan Rasulullah SAW dan generasi-generasi sesudahnya terhadap orang-orang yang tidak seagama.Semua perlakuan ini berhulu kepada prinsip toleransi yang dipegang dengan teguh, bukan sekedar lip service. Sebagai contoh, Imam al-Bukhari meriwayatkan:

عن انس رضى الله عنه ان النبى صلى الله عليه وسلم عاد يهوديا وعرض عليه الاسلام فاسلم فخرج وهو يقول الحمد لله الذى انقذه من النار (رواه البخارى

Dari Anas r.a: Suatu ketika Nabi SAW pernah menjenguk seorang Yahudi. Nabi SAW kemudian menawarkan kepadanya untuk masuk Islam dan orang Yahudi tersebut menerimanya.Nabi SAW lalu keluar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelematkannya dari api neraka.

Dalam kesempatan lain, Nabi SAW memberikan contoh bertoleransi kepada para sahabatnya melalui tindakan konkrit yang ia lakukan.

“Jabir bin Abdullah berkata, “Suatu ketika lewat dihadapan kami orang-orang yang membawa jenazah seorang Yahudi. Nabi SAW lalu berdiri dan kamipun segera mengikutinya.Setelah itu kami berkata, “Wahai Rasulullah, yang lewat tadi adalah jenazah seorang Yahudi.” Rasulullah kemudian menjawab, ”Apakah aku ini juga tidak seorang manusia? Jika kamu sekalian melihat orang sedang lewat membawa jenazah, maka berdirilah!”

Tentang perlindungan terhadap orang-orang non-muslim yang dihidup di tengah-tengah komunitas umat Islam dan memiliki “kontrak” damai dengan kaum muslim, Nabi SAW bersabda:
من قتل معاهدا لم ير رائحة الجنة وان ريحها ليوجد مسيرة اربعين عاما (رواه البخارى)
“Siapa yang membunuh orangkafir yang berada dalam perjanjian damai (dengan kaum muslim), maka tidak akan mencium bau surga, padahal harumnya surga itu sudah dapat tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan”

Pendeklarasian Piagam Madinah (Mîsâq al-Madînah)[27] pada hakekatnya adalah contoh lain yang fenomenal dari praktek toleransi Islam. Keberadaan piagam ini telah menolak mentah-mentah tuduhan intoleransi yang dilontarkan para musuh Islam. Piagam Madinah berisi penegasan tentang kesetaraan fungsi dan kedudukan serta persamaan hak dan kewajiban antara umat muslim dan umat-umat lain yang tinggal di Medinah. Didalamnya secara eksplisit dinyatakan bahwa umat Yahudi dan yang lainnya adalah umat yang satu dengan kaum muslim. Mereka akan diperlakukan adil dan dijamin hak-haknya selama tidak melakukan kejahatan dan pengkhianatan. Dengan undang-undang inilah Rasulullah SAW menata kehidupan masyarakat Madinah yang plural. Dalam perkembangan selanjutnya, spirit dari Piagam Madinah tetap dipelihara oleh para penguasa muslim dari generasi ke generasi.

  1. ATURAN KETERBUKAAN TERHADAP  KEBUDAYAAN LUAR
  2. Aturan terkait objek yang diadopsi

Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahwa toleransi dalam Islam dibangun diatas beberapa landasan pokok, yaitu:[28] 

1)      prinsip tentang kemuliaan manusia betapapun beragamnya kehidupan mereka. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

2)       Keyakinan bahwa pluralisme sudah merupakan kehendak Allah SWT yang tidak akan mengalami perubahan. Sebagai contoh, dalam kaitannya dengan pluralisme agama, Allah berfirman:

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi.Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka seluruhnya menjadi orang-orang yang beriman?” 

3)      Umat Islam meyakini bahwa mereka tidak bertanggungjawab terhadap jalan hidup yang dipilih oleh umat-umat lain. Kewajiban mereka hanya berdakwah, sementara pilihan antara iman atau tidak adalah urusan masing-masing pihak dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

29. dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

4)      prinsip tentang keadilan, selama pihak lain berlaku sama.Allah SWT berfirman:

8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Apa yang disebutkan oleh Yusuf al-Qaradhawi diatas, pada hakikatnya merupakan penegasan bahwa ajaran Islam tentang toleransi tidak dibangun diatas landasan yang rapuh, sebaliknya pada ajaran-ajaran fundamental yang masing-masing saling terkait. Satu hal yang agaknya dapat melengkapi dasar-dasar diatas adalah bahwa parameter yang digunakan Islam dalam menilai sesuatu adalah parameter keruhanian (ketakwaan), bukan parameter fisik atau keduniaan.Hal ini terlihat pada kesan yang ditimbulkan oleh ayat dan hadis yang berbicara tentang kesetaran dan persamaan hak dan kewajiban secara umum.

Tentang batasan toleransi, Islam menekankannya pada prinsip keadilan. Surat al-Mumtahanah: 8-9, umpamanya, telah mencerminkan pola hubungan yang proporsional dan berkeadilan tersebut. Kesan yang dapat ditangkap dari ayat ini adalah bahwa toleransi dapat terus berjalan selama pihak luar berlaku adil terhadap umat Islam, dalam konteks ini adalah tidak memerangi kaum muslim karena alasan agama, tidak mengusir kaum muslim dari negeri-negeri mereka, atau berkonspirasi dengan pihak lain untuk mengusir umat Islam. Akan tetapi, jika yang terjadi justru sebaliknya, maka tidak berlaku toleransi.Artinya, umat Islam harus bersikap tegas dengan memerangi mereka.[29]

Sikap keterbukaan Islam terhadap agama lain bukan berarti sikap cair dengan aliran-aliran yang bertentangan dengan Islam, karena Islam menuntut karktr tegas, tidak kehilangan jati diri, apa lagi menjado underbowagama dan kebudayaan lain.

Maka secara otomatis batasan-batasan objek yang dapat diadopsi Islam menurut Abbas Mansyur Tamam hanyalah sebagai berikut:

a)   Objek ilmu atau aturan yang bermanfaat bagi kepentingan umat dalam memberikan sumbangsih  yang efektif secara kualitas bukan secara kuantitas.

b)   Umat betul-betul membutuhkan pengutipan,karena tidak ada alternative lain yang dihasilkan intern umat Islam.

c)   teliti dalam melakukan pengutipan secara kritis dengan menguji kebaikan dengan pendekatan keagamaan, jika bertolak bentangan dengan agama maka ditolak.

d)  Melakukan islamisasi objek kajian dengan mengembalikannya kepada prinsip-prinsip Islam.

e)   Berangsuru-angsur dalam melakukan pengutipan sesuai kaidah kepentingan dan darurat.[30]

 

  1. Aturan terkait dengan pelaku pengutipan

Sedangkan aturan yang berkaitan dengan pelaku pengutipan adalah sebagai berikut:

1)   harus menguasai ilmu-ilmu agama sebagai fondasi keimanan yang kokoh .

2)   berkomitmen dengan Islam

3)        Bangga dengan agamanya dan tidak silau dengan melihat kebudayaan lain.

4)        mengabaikan aturan pengidap virus yang membuat rentan terhadao penjajahan bangsa lain.

 

  1. WILAYAH KETERBUKAAN DENGAN BARAT NON MUSLIM

 

Bidang kutipan yang dapat diambil dalam keterbukaan pengetahuan tidak semuanya dapat diambil oleh orang Islam,karena suatu pengetahuan akan dipengaruhi budaya, tradisi suatu wilayah yang mewarnai budaya dan peradaban suatu bangsa.Sebagaimana dilakukan para ilmuwan muslim pada masa kejayaan Islam Kekhalifahan Abbasyiah yang melakukan kontak dengan peradaban Yunani dan Romawi mereka mempelajari ilmu kedokteran, matematika, astronomi, filasafat, tasawuf, kimia, fisika, geografi dan sebagainya, dengan mengabaikan ilmu humaniora yang bisa membahayakan agama yang mereka anut.

  1. Sains dan teknologi bukan humaniora

Humaniora yang mereka abaikan dalam pengutipan ilmu pengetahuan karena dalam humaniora terdapat model kehidupan, sastra, tradisi dan konsep-konsep sosial Barat yang tidak dibutuhkan masyarakat Islam, karena Islam lebih baik dari mereka. Apalagi tradisi-tradisi mereka bercampur dengan keyakinan atheis,paganisme dan materialisme.Ciri dari peradaban Barat yang berasal dari Romawi memiliki basis kepercayaan paganism yang hanya membuka matanya kepada objek yang ada di sekitarnya yang disebut materi, sedangkan Islam lebih jauh ke peradaban yang bertauhid dengan membuka mata pada alam gaib dan supranatural yaitu pemikiran.

Muhamad Asad (Leopold Weis,1900-1992) seorang pemikir Islam kelahiran Austro-Hungaria dalam Abbas berbicara panjang lebar bidang yang seharusnya dipelajari oleh umat Islam dari peradaban Barat hanyalah saint dan teknologi, bukan humaniora, karena humaniora membahayakan ajaran agama Islam.[31]

 

  1. Kerugian akibat salah pilih bidang

Kerugian akibat salah memilih bidang yang  tidak tepat untuk keterbukaan dan pengutipan mengakibatkan umat Islam kehilangan identitas agama dan peradabannya,  meninggalkan jati diri mereka sendiri jatuh ke dalam penyembahan berhala kemajuan itu sendiri dan umat Islam mengalami kelumpuhan total dalam memerankan  fungsi peradaban bagi umat manusia.

  1. Keterbukaan Liberal terhadap Barat

Dengan lumpuhnya peranan umat Islam dalam peradaban umat manusia, maka banyak tokoh muslim yang terlalu gamang  menelan mentah-mentah peradaban Barat, seperti Toha Husein di Mesir, Ahmad Khan di India yang mengimpor system pendidikan Barat secara lengkap, padahal bertentangan dengan fondasi akidah dan iman  serta risalah Islam.

 

  1. BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN KHAZANAH ORIENTALISME

Dengan adanya perubahan kiblat orientasi pendidikan Islam dan lembaga-lembaga pendidikan di Timur Tengah yang dipandu tokoh-tokoh Islam menuju lembaga-lembaga pendidikan Barat yang dikendalikan para orientalis  yang melakukan kajian serius tentang Islam, bahkan sumber-sumber manuskrip Islam berada di tangan mereka. Akan tetapi karena kajian para orientalis banyak yang ditolak kaum muslim, maka mereka mengganti nama dengan Islamic Studies tanpa merubah tradisi akademis mereka.

Sikap orientalis dalam kajian Islam yang mereka namakan Islamic studies tidak terlepas dari latar belakang keagamaan mereka dan kepentingan mereka terhadap Negara-negara Islam di Timur, sperti bagaimana tidak mereka mempertahankan filsafat materialisme dan ajaran Darwin untuk melanggengkan penjajahan mereka di dunia.

Oleh karena itu, produk pemikiran orientalis manakah yang relative lebih jujur dan bebas dari kepentingan agama mereka. Karena pada  umumnya orientalis digunakan untuk dua kepentingan, pertama kepentingan politik  yang mendedikasikan kinerja intelektualnya ke dalam  kepentingan melanggengkan imperialism, dan kedua kepentingan agama   yang mendedikasikan dirinya ke dalam gerakan kristenisasi.

  1. Orientalisme Jerman

Dari sekian banyak orientalis yang  memiliki manuskrip Islam, orientalis Jerman yang pada  umumnya memiliki sikap kejujuran dalam memberikan perspektif  keilmuan yang objektif bila dibandingkan dengan orientalis lainnya. Hal ini disebabkan Jerman tidak memiliki kepentingan politik dengan  Arab dan Islam, hal ini terbukti dengan Jerman tidak memiliki Negara jajahan di Arab dan  Islam dan tidak pula memiliki kepentingan serta perhatian dalam menyebarkan agama Kristen di Timur. Sehingga kajian ilmunya murni bersifat ilmu pengetahuan, kecuali hasil kajian yang dibiayai oleh Negara lain pemilik kepentingan di Timur Islam.

  1. Bentuk  mengambil manfaat dari produk orientalis yang jujur

Diantara beberapa produk orientalis  yang jujur tentang kajian Islam yang telah dipublkasikan sebagai khazanah Arab dan  dalam bentuk bibliografi manuskrip Arab dan Islam, kamus-kamus Arab dan glosarium sunnah Nabi, dan kajian kebudayaan Islam.

Diantara beberapa tokoh orientalis tersebut salah  satunya Heinrich Ferdinand Wues Tenfeld (1880-1899)seorang orientalis Jerman yang berhasil mempublikasikan manuskrip besar, rumit dan fundamental Mu’jam Buldan karya Yakut, Wafi’at al-A’yan karya ibnu Khallakan, Thabaqal ad-Dzahabi dan lain-lain sampai mencapai 200 karya besar di bidang manuskrip Arab-Islam.

Dalam bidang bibliografi manunskrip Arab -Islam terdapat di perpustakaan di Jerman yang tidak kurang dari 10 ribu manuskrip terdapat di Perpustakaan Berlin. Selain itu banyak yang dihasilkan dalam glosarium  bahasa Arab dan sunnah Nabawiyah.

  1. Memanfaat khazanah orientalis secara umum

Sedangkan khazanah para  orientalis secara umum yang  tidak dikenal memiliki kejujuran,hanya  boleh diambil oleh orang-orang yang memiliki integritas tinggi di dalam Islam, orang memiliki bentangan pengetahuan Islam yang luas dan serius,  serta membaca kritis yang relative aman untuk berinteraksi dan mengambil  pelajaran darinya.

Sedangkan bidang-bidang yang bisa dipelajari meliputi kalisfikasi khazanah berupa kajian deskriptif,kajian bangsa-bangsa Timur non Islam, dan mengambil manfaat untuk mengevaluasi umat. Kajian deskriptif cebderung lebih objektif untuk dikaji dan bisa memberikan sesuatu yang baru dalam pemikiran Islam. Sedangkan kajian yang sarat dengan penilaian orientalis terhadap pemikiran Islam dapat dilakukan dengan memisahkan materi yang bertsifat deskriptif  serta mengambil manfaatnya dan dengan cara mengkritisi serta memberikan jawaban yang benar dari perspektif Islam, terkait dengan objek yang dikaji.

Sedangkan pengetahuan tentang bangsa-bangsa Timur non Islam dibutuhkan umat Islam  karena posisi geografisnya menjadi tetangga dunia Islam, sehingga umat Islam membutuhkan pengetahuan tentang kondisi agama, pemikiran, politik, sosial dan ekonomi untuk merealisasikan tujuan-tujuan dakwah Islam di kawasan itu.

Sedangkan manfaat lain dari hasil kajian orientalis dapar digunakan untuk mengevaluasi umat dan memperbaiki kondisi internal umat serta menanggulangi kekurangan dann kelemahan umat Islam sendiri. Hal ini mendorong lembaga-lembaga pendidikan dalam mengembangkan sistem pendidikan dan ilmu penbetahuan dengan mempergunakan ilmu dan teknologi mutakhir.

 

  1. KESATUAN ILMU DALA PERADABAN ISLAM

Allah memprolkamirkan umat Islam sebagai umat yang terbaik dengan ciri-ciri menyuruh kepada yang ma;ruf, mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110), maka selayaknya umat Islam menjadi pemimpin peradaban bukan malah menjadi pengekor kebudayaan Barat yang memiliki karakteristik tidak islami di beberapa segi.

Oleh karena itu ketika umat Islam menyerap kebudayaan asing memerlukan mekanisme yang harus dilakukan agar unsur-unsur kebudayaan asing itu menjadi bagian yang serasi dalam paradigma ilmu dalam Islam.

  1. Kesatuan Ilmu dalam  konteks Peradaban

Menurut Malek bin Nabi seorang filsuf Al Jazair peradaban terdiri dari unsur manusia, tanah dan waktu. Maka peradaban islam memiliki ciri khas tersendiri, berbeda dengan peradaban Barat yang berbasis pada paganisme dan melahirkan filsafat materialisme yang mengkaji objek yang dapat diindra oleh mata berupa objek yang ada di sekitarnya. Sedangkan Islam dibangun atas peradaban tauhid yang selain yang nampak ada sesuatu yang gaib dan supranatural berupa pemikiran.

Oleh karena itu peradabana Islam menuntut akidah yang kuat pada pemeluknya sehingga membuat konsisten dengann hukum-hukum syariat yang menjadi pedoman hidupnya dan sebagai pelaku peradaban yang khas.

  1. Interaksi antar berbagai peradaban

Interaksi antar berbagai peradaban bisa terjadi  dalam dua tipe ilmu pengatahuan  baik yang bersifat universal seperti matematika, kimia, fisika, kedokteran dan disiplin-disiplin lain yang menggunakan metode ilmiah, kebenaran dan hukum-hukum ilmiah, maupun pengetahuan yang terkait dengan kekhasan peradaban seperti ilmu politik, sosial dan filsafat. Ilmu yang bersifat universal menjadi milik bersama  terbuka lebar untuk diadopsi oeh siapa saja. Ilmu ini harus dicari dari mana saja, sedangkan pengetahuan yang berasal dari privasi peradaban harus lebih ekstra hati-hati dan dikritisi oleh norma asli peradaban karena sering kali mengandung nilai-nilai fundamental yangf bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Hal ini seperti dilakukan generasi Islam awal yang melakukan interaksi dengan peradaban Persia,  seperti mengdopsi sistem perpajakan tanah dan pertanian Kisra (Wado’i Kisra) dan menolak sistem pemerntahan dan fisafat politik Parsi yang memposisikan kepala negara sebagai anak tuhan Ahura-Mazda. Sedangkan perdaban Yunani yang diambil di masa awal adalah ilmu yang bersifat praktis. kedokteran, kimia, teknik, matematika, pertanian, logika dan lain-lain serta mengabaikan peradaban yang berupa kepercayaan dan humanisme Yunani  karena mengandung paganisme, mitologi dewa-dewa, sastra dan seni Yunani. Sebagaibukti pengaruuh filsafat Yunani dalam Filsafat islam hanya berkisar seputar aliran idealisme, tidak pernah menggunakan filasafat materialisme murni yang tidak percaya adanya Tuhan.

Hal ini seperti apa yang dilakukan Al Gozali dengan Tahafut al-Falasifah” dan “Tahafut al-Tahafut” oleh Ibnu Rusyid yang menolak tiga masalah krusial, pertama berkaiatan dengan soal bahasa/redaksional (khilaf Lafzi), kedua mazhab yang tidak bertentangan dengan fundamental agama (ushuludin) dan ketiga yang beraiatan degan doktrin fundamental agama seperti kebaruan alam, sifat-sifat sang pencipta, dan konsep kebangkitan fisik dari alam kubur.

Dalam interaksi peradaban Barat dan islam, Barat mengambil peradaban yang bersifat universal sebagai kepemilikan bersama umat manusia, tetapi menolak peradaban Islam yang  bertentangan dengan materialisme mereka. Sehingga sikap umat Islam seharusnya tidak jauh berbeda ketika berinteraksi dengan peradaban Barat, dimana peradaban yang bersifat uniersal kita ambil dan kutif, sementara yang berkaitan denhgan privasi peradaban humanistik, seni, sastra lebih konsisten dengan peradaban islam yang memiliki ciri khas tauhid dan supranatural.

  1. Mensinergikan kebudayaan asing ke dalam Islam

Dalam mensinergikan kebudayaan asing ke adalam Islam, maka yang perlu dilakukan umat Islam sebagai pemeran kebudayaan melakukan adopsi yang berbaur dan menyatu dalam peradaban Islam dengan cara melakukan sinergi urgunsi budaya, melakukan otoritas tauhid sebagai sinergi kebudayaan tertinggi, dan islamisasi ilmu pengetahuan dalam segala bidang.

Islamisasi ilmu pegatahuan yang diusung Alatas dan Al Faruqi merekonstruksi setiap ilmu asing aagar menjadi serasi dengan islam dengan otoritas tauhid sebagai otoritas tertinggi dalam mensinergikan kebudayaan asing ke dalam islam dalam tiga dimensi, pertama dalam dimensi kesatuan epistemologi demngan mencari kebenaran yang logis, objektif dan kritis, dimensi kesatuan hidup yang memandang ilmu bermanfaat selama mendatangkan kebaikan bagi kehidupan, dan dimensi kesatuan sejarah, dimana setiap ilmu memiliki karater sosial dan terkait dengan umat yang harus mengacu kepada tujuan umat dalam sejarah.

C. PENUTUP

Dari paparan makalah di atas, maka sikap Islam dalam toleransi sangat terbuka selama hasil pemikiran dibutuhkan oleh masyarakat umat Islam sebagai pemeran kebudayaan dan peradaban serta tidak mengganggu jatupi diri sebagai umat Islam. Terutama hasil peradaban yang bersifat universal seperti sains, kedokteran dan sebagainya yang bersifat praktis dan dapat digunakan untuk perbaikan umat dalam menguatkan akidah dan syari’ah Islam.

Sedangkan peradaban yang diindikasikan campuran mitos, kesenian, politik, sastra, yang tercampur dengan paganism dan materilisme harus berani menolaknya, karena dapat merusak keyakinan umat Islam.   Tidak semua peradaban yang dihasilkan Barat dapat diadopsi oleh dunia Islam seperti hasil karya peradaban yang bersifat humaniora, Islam harus berani menolaknya, karena Islam lebih utama dengan fundamental ketauhidan ajaran yang harus masuk dalam berbagai sisi epistemology pendidikan Islam. Sedangkan peradaban Barat yang berasal dari Pemikiran Romawi dan Yunani tidak bisa dipungkiri akan bersifat materilisme dan idividulisme yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Akan tetapi jika ilmuwan muslim ingin mempelajari tentang peradaban yang bersifat humaniora harus memiliki persyaratan dan kriteria seorang lmuwan yang memiliki kematangan dengan ajaran Islam dan memegang teguh dengan konsekuen ajaran Islam. Ibaratnya ketika orang Barat mengambil transkrip-transkrip dari Islam untuk kemajuan Barat, mereka mengambil ilmu-ilmu dalam Islam yang bersifat universal tanpa mengambil ajaran Islam yang bersifat tauhid dan mereka berkomitmen dengan mempertahankan materialism dan kapitalisme.

Maka sikap ilmuwan Islam dalam mengambil peradaban dari Barat harus lebih selektif yang bersifat universal dan deskriptif dengan tetap ajeg dengan jati diri sebagai seorang muslim. Begitu pula dengan Islamisasi ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan Islam dengan menghadapi masa depan peradaban Islam yang semakin kuat di dalam peradaban umat manusia.

 


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Malik Salman, 1993,  al-Tasâmuh Tijâh al-Aqaliyyât Kadharûrotin li al-Nahdhah. Kairo: IIIT

Ahmad Warson Munawwir, 1997, Kamus al-Munawwir Arab- Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif. Cet. Ke-14.edisi ke-2.

Al-Husein bin Muhammad a-Raghib al-Asfahani. 1997. Mu’jam Mufradât li Alfâdz al-Quran. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Cet. Ke-1

S. Hornby , 1986, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. London: Oxford University Press. Cet. Ke-2, 3

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.1991, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. Edisi-2.cet. Ke-1

Din Zaenudin, 2004, Pendidikan Budi Pekerti Dalam Perspektif Islam, Jakarta: al-Mawardi Prima

Jalaludin Rakhmat, 2002,  Renungan-Renungan Sufistik. Bandung: Mizan. Cet. Ke-14

Jamaluddin Muhammad bin Mukram Ibn al-Mandzur. t. th. Lisân al-‘Arab. Beirut: Dar Shadir. Cet. Ke-1

Muhammad al-Ahin bin Muhammad al-Mukhtar al-Syarqithi. 1995. Adhwâ’ al-Bayân fî Idhâh al-Quran bi al-Quran. Beirut: Dar al-Fikr. Jilid-8

Muhammad Imarah, 1997,  al-Ta’addudiyyah: al-Ru’yat al-Islâmiyyah wa al-Tahaddiyyat al-Gharbiyyah. Mesir: Dar al-nahdhah

Muhammad Quraish Shihab. 2001. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati. Cet. Ke-1

——-. 1996. Wawasan al-Quran. Bandung: Mizan. Cet. Ke-3

Yusuf al-Qaradhawi, 2000,  al-Aqaliyyât al-Dîniyyah wa al-Hill al-Islâmiy. Beirut: Muassasah al-Risalah. Cet. Ke-1.

 

[1]Depdikbud RI,.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1991,Edisi ke-2. Cet. Ke-1. h. 10565

[2]Depdikbud RI,.Kamus.hlm. 10565

[3]A. S. Hornby. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. London: Oxford University Press. 1986.Cet. ke-23. h. 909

[4]Abdul Malik Salman,  al-Tasâmuh Tijâh al-Aqaliyyât ka Dharûratin li al-Nahdhah. Kairo: The International Institute of Islamic Thought, . 1993 h. 2

[5]Jamaluddin Muhammad bin Mukram Ibn al-Mandzur. t. th. Lisân al-‘Arab.Beirut: Dar Shadir. Cet. ke-1.Jilid 7. h. 249

[6]Ahmad Warson Munawwir..Kamus al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif. Edisi ke-2.1997, Cet. Ke-14. h. 657

[7]Abdul Malik Salman, Al-Tasamuh, hlm. 2

[8]Abbas Mansyur Taman, Islamic Wordview, Diktat PPs UIKA, Bogor, hlm.152

[9]Abbas  Mansyur Taman, Ismlamic, hlm. 153

[10]Din Zaenudin, Pendidikan Budi Pekerti Dalam Perspektif Islam, Jakarta:  Al-Mawardi Prima, 2004, hl,.169

[11]Din Zaenudin, Pendidikan…, hlm.170

[12]Din Zaendin, Perdidikan, hlm 171

[13]A.S. Horby, hlm.735

[14]Depdikbud RI, Kamus, hlm,777

[15]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat, Bandung: Mizan,1996, hlm.378

[16]M. Quraish Shihab, Wawasan, hlm.379

[17]Muhammad Quraish Shihab. Wawasan al-Quran. Bandung: Mizan, 1996.Cet. ke-3. h. 320. Ayat yang dimaksud adalah surat al-‘Alaq (96): 2, yaitu:
خلق الانسان من علق (العلق: 2)

[18]al-Quran menyebut kelompok-kelompok spesies tersebut dengan “umat”. Istilah ini tidak saja ditujukan kepada komunitas manusia, namun juga terhadap himpunan-himpunan makhluk lainnya, seperti burung, binatang melata, dan sebagainya (perhatikan firman Allah dalam surat al-An’am (6): 38).

[19]Muhammad Imarah. al-Ta’addudiyyah:al-Ru’yat al-Islâmiyyah wa al-Tahaddiyyat al-Gharbiyyah. Mesir: Dar al-Nahdhah.1997, h. 4. Dalam hal ini ia menyatakan:
واذا كانت الرؤية الاسلامية قد قصرت “الوحدة” التي لا تركب فيه ا ولا تعدد لها …على الذات االالهية وحدها دون كل المخلوقات والمحدثات والموجودات فى كل ميادين الخلق المادية والحيوانية والانسانية والفكرية. تلك التى قامت جميعها على التعدد والتزوج والنركب والارتفاق. فان هذه الرؤية االاسلامية تكون بهذا ” سنة ” من سسن الله سبحانه و تعالى فى الخلق والمخلوقات جميعا و اية من الآيات
التى لا تبديل لها ولا تحويل

[20]al-Husein bin Muhammad al-Raghib al-Asfahani. Mu’jam al-Mufradât li Alfâdz al-Quran. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.1997. Cet ke-1. h. 108. Contoh lain dari penggunaan kata law dalam arti seperti diatas adalah firman Allah dalam surat Hud (11); 118, yaitu:
ولو شاء ربك لجغل الناس امة واحدة ولا يزالون مختلفين (هود: 118)

“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”.Kementerian Urusan Agama Islam KSA. Op. Cit.. h. 345.al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini berpendapat bahwa di dalam ayat ini jelas terkandung sunnatullah kemajemukan. Bahkan, katanya, demi pluralisme itulah Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini ( للاختلاف خلقهم. ). Lih: Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi. t. th. Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Quran. Mesir: Dar al-Kutub al-Mishriyyah. Jilid ke-9. h. 114-115

 

 

[22]M. Quraish Shihab, Wawasan, hlm. 376

[23]Ayat dimaksud adalah ayat ke- 6 yang berbunyi:
ولا تمنن تستكثر (المدثر: 6)
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. Kementerian urusan Agama Islam KSA. Op.cit. h. 992[23]Kesan ini akan menjadi lebih jelas jika diamati firman Allah SWT dalam surat al-Zukhruf (43): 32, yaitu:
اهم يقسمون رحمة ربك نحن قسمنا بينهم معيشتهم فى الحيوة الدنيا ورفعنا بعضهم فوق بعض درجات ليتخذ بعضهم بعضا سخريا ورحمة ربك خير مما يجمعون (الزخرف: 32)
“ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.Kementerian Urusan Agama Islam KSA.Op.cit. h. 798.Dalam ayat ini ditegaskan bahwa perbedaan-perbedaan yang ada tersebut ditujukan agar manusia dapat saling memanfaatkan. Dengan demikian mereka akan saling membutuhkan dan mengadakan interaksi satu sama lain.

[24]Muhammad Quraish Shihab. Op.cit. h. 328

[25]al-Quran mengabadikan sikap terpuji ini dalam surat al-Hasyr (58): 9

[26]Saking dekatnya dengan Nabi SAW, Salman bahkan sebut Nabi SAW sebagai “minnâ ahl al-bait” (termasuk ahl al-bait). Salman mendapatkan kehormatan tersebut antara lain dikarenakan kedudukan rohaniahnya yang sudah begitu tinggi, sampai mencapai sisi kesucian rohani seperti kesucian ahl al-bait. Jalaludin Rakhmat. 2002 Renungan-Renungan Sufistik. Bandung: Mizan. Cet. ke-14. h. 284

[27]Dalam tulisan-tulisan para sejarawan muslim generasi awal, istilah yang dipakai dalam menyebut Piagam Madinah adalah Shahîfah Madînah. Namun kemudian dalam literatur-literatur belakangan, istilah yang sering muncul adalah mîtsâq (charter), dustûr (constitution), dan deklarasi. Lih: Akram Diya al-Umari. Op.cit. h. 87

[28]Yusuf al-Qaradhawi. Op.cit. h. 677-678

[29]Ismail bin Katsir. 1990. Tafsîr al-Quran al-‘Adzîm. Beirut: Dar al-Jil. Jilid-4. h. 349-350

[30]Abbas Mansyur Tamam, Islamic, hlm.156-157

[31]Abbas Mansyur Tamam, Islamic, hlm.161

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s