Tantangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Bogor, 14 April 2013

CIMG2708 Pendidikan agama Islam di sekolah selama ini mengalami tantangan baik dilihat dari sisi internal pendidikan agama Islam itu sendiri atau dari sisi eksternal yang berhubungan dengan pendidikan agama Islam.

Secara internal pendidikan agama Islam memiliki tantangan sebagai berikut:Pertama, PAI kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi makna dan nilai atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik. Kedua, PAI kurang dapat bekerja sama dan kurang berjalan bersama dengan program non-agama. Ketiga, kurang mempunyam relevansi terhadap perubahan kontekstual sosial budaya. Keempat, PAI lebih banyak menyentuh aspek-aspek metafisika dan bersifat abstrak atau bersipat suprarsional. ( Muhaimin, Rekonstruksi, 2009: 56).

CIMG2789 Sedangkan kendala PAI dari eksternal adalah: Pertama,  Menguatnya pengaruh budaya materialisme, konsumerisme dan hedonisme yang menyebabkan terjadinya perubahan life-style masyarakat dan peserta didik pada umumnya. Kedua, Menurunya dedikasi guru PAI yang lebih bersifat transaksional dalam bekerja. Ketiga , Orang tua di rumah mulai kurang memperhatikan pendidikan agama anaknya. Keempat, Semakin menurunnya kontrol sosial masyarakat, Kelima, Orientasi pendidikan semakin materialistis, rasionalis dan dan individualis. ( Muhaimin, Rekonstruksi, 2009: 116). Keenam, Adanya spesifikasi hasil pembelajaran dengan pencapaian indikator dari standar kompetsni dan kompetensi dasar mata pelajaran yang menghasilkan hasil belajar yang dapat diukur (measurable) dan bisa diamati (observable), padahal sikap, perilaku dan mentalitas being religious bersifat on-going proccess atau suatu proses yang berlangsung secara terus menerus yang kadamng-kadang sulit diukur dan diamati. (Muhaimin, Rekonstruksi, 2009: 306).

Dengan tantangan yang datang dari sisi internal dan eksternal, pendidikan agama Islam, maka solusi menurut pandangan kami adalah,

  1. Paradigma pendidikan agama harus lebih menitik beratkan being religius (kepemilikan nilai-nilai agama) pada setiap jiwa, pengetahuan agama (knowing) dan praktik keagamaan (doing) baru sampai di otak manusia, sementara pendidikan agama harus mencapai being Islam di lubuk hati yang paling dalam (qalbu) yang terpancar dalam perilaku sehari-hari seperti trust (amanah), kejujuran, disiplin, taat, tawadu dan toleran kepada siapapun. Sehingga pendidikan agama di sekolah tidak diarahkan kepada kemampuan menguasai materi pelajaran, akan tetapi lebih melatih kepada pengalaman belajar agama yang dapat dirasakan, dianalisa dan dievaluasi oleh anak-anak didik kita.
  2. Pendidikan agama di sekolah bukanlah tanggung jawab guru agama saja, akan tetapi tanggung jawab kolektivitas warga sekolah, baik kepala sekolah, semua, Tata Usaha, pembantu sekolah dan warga sekitar sekolah. Sehingga pembudayaan keagamaan di sekolah merupakan solusi dalam proses pendidikan (on going process), seperti penanganan anak yang belum bisa baca al-Quran, ritual keagamaan, simbol-simbol keagamaan diterapkan dalam kehidupan sekolah, keterlibatan guru non agama dalam kehidupan beragam sangat diperlukan seperti menjadi imam sholat berjamaah, memberikan pengajian, berdoa secara serempak ketika awal dan akhir pembelajaran. Selain itu, bisa juga dilakukan kontrak kerja antar siswa dalam menegakkan ajaran Islam di sekolah, seperti siapapun yang melanggar ketertiban kelas maka diberikan punishment di antara mereka, sehingga siswa akan lebih malu jika berbeda dengan kawan sekelasnya. itu semua akan membantu terlaksananya program keagamaan di sekolah, karena secara psikologis siswa SMP, SMA, SMK pada umumnya lebih malu dengan kawan-kawan seusianya daripada guru dan lebih mudah terbangun sikap solidaritas di antara mereka.
  3. Pendidikan agama dalam keseharian peserta didik dibawa ke ranah kontekstual mereka, Bagaimana secara realitas keagamaan di masyarakat dengan cara melakukan penelitian, pengamatan sederhana sesuai dengan kemampuan mereka, kemudian dikritisi bersama secara idealitas agama berdasarkan dalil al-quran dan al Hadits bahkan secara pendekatan historis untuk diambil jalan terbaik dalam pandangan mereka yang tidak terlelepas dari nilai-nilai relijusitas Islami.
  4. Pendidikan agama yang lebih banyak bersifat abstak bahkan metafisika yang belum mampu dibaca atau sulit ditrangkap oleh peserta didik dapat diformulasikan dalam bentuk perilaku-perilaku yang nampak bisa teramati dengan baik.Melihat secara kasat mata memang sulit tetapi indikator ke arah metafisik dapat dipahami usia anak-anak, seperti bidang piskologi yang tidak mampu melihat jiwa manusia, akan tetapi indikator kejiwaan seseorang dapat dibaca dalam perilaku, karakter, bahasa tubuh mereka. Dalam bidang agama misalnya indikator ketertarikan terhadap hal-hal yang beruhubungan dengan agama ,respeks, mengkritisi hal-hal yang tidak sesuai dengan agama merupakan indikator ketertarikan akan minat agama. Begitupula dalam indikator cara berpakaian, cara bersikap, berbicara, ketaatan beragama, kejujuran, keadilan merupan beberapa indikator memiliki rasa keberagamaan.
  5. Sedangkan dari sisi eksternal Pendidikan agama Islam solusinya bagaimana membangun opnini yang baik tentang pendidikan agama Islam di kalangan anak didik kita.sebesar apaun kekuatan dari luar jika secara intern PAI sudah ada dalam diri mereka, maka agama akan tetap di hati mereka dan jika tersesat akan segera kembali ke jalan agama. Sebagai beberapa langkah ketika anak didik diterima di sekolah adakan perjanjian dengan orang tua, bahwa mendidik anak bukan utamanya di sekolah akan tetapi menjadi tanggung jawab orang tua, dan masyarakat.
  6. Sementara untuk penguatan strategis PAI di sekolah tidak lepas juga dari kemampuan guru agama dalam melakukan  kerjasama ke luar sekolah, misalnya bekerjasam,a dengan LPTQ, MUI, Bintal, LSM-LSM keagamaan, bahkan beberapa perusahaan di bidang CSR yang dapat dimanfaatkan dalam momentum keagamaan. Coba kita tengok beberapa sekolah non-muslim dimana setiap sekolah terdapat tempat ibadah yang sangat besar dan dipake untuk kegiatan masyarakat, misalnya hampir setiap sekolah Mardiyuana memliki tempat ibadah, sedangkan sekolah-sekolah Islam, atau sekolah-sekolah negeri yang notabene warganya dominan beragama Islam, tidak memiliki tempat ibadah yang mumpuni, kalaupun ada sangat sempit, tidak layak dan berada di pojok bangunan. Jika keslulitan membangun sarana ibadah yang mumpuni, gunakan tempat ibadah milik masyarakat sekitar dengan terlebih dahulu ada MoU antara pihak sekolah dengan masyarakat.
  7. Sementara untuk mengawal kebijakan pendidikan agama dalam sekala masyarakat kecamatan, kabupaten, Provinsi dan nasional perlu guru Agama Islam berada dalam beberapa wadah organisasi yang mampu memberikan pressure dalam kebijakan PAI. di timngkat SD ada KKG, di TK/PAU ada FKG, di SMP, SMA, SMK ada MGMP PAI secara ke dalam, sedangkan ke luar ada PGRI, PGM, AGPAII dan sebagainya. Sehingga oraginisasi inilah yang akan mengawal kebijakan tentang pendidikan. Dalam pendidikan agama telah lahir organisasi AGPAII (Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia) di tingkat nasional, wilayah, Daerah dan Cabang. Semakin kuat organisasi AGPAII maka akan semakin menguatkan peranan Pendidikan Agama Islam di tataran nasional.

Demikian sekelumit tantangan dan beberapa solusi pendidikan agama Islam di sekolah, bagi kawan yang memiliki pengalaman dan solusinya dalam bidang pendidikan agama di sekolah dapat dikirim ke alamat kami : http://agpaikabogor.blogspot,com  atau ke; agpaiikabogor@gmail.com

Syuran Kasiran, Oleh Ruhyana, Salam GPAI

About these ads

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s